Manusia Damai, Suku Ngalum Ok di Pegunungan Bintang, Papua
beritapapua.id - Manusia Damai, Suku Ngalum Ok di Pegunungan Bintang, Papua - SuaraPapua

“Pada umumnya, masyarakat Suku Ngalum bertempat tinggal di pinggiran sungai, kali, atau yang ada sumber airnya. Oleh sebab itu, penamaan Suku Ngalum ditambah dengan kata Ok yang berarti air menjadi masyarakat yang hidupnya mencari air,” tulis Immanuel H. Mimin, melansir dari suarapapua.

Air adalah bagian terpenting dari manusia. Setengah dari bagian tubuh manusia terdiri dari air, yakni sekitar 60 hingga 70 persen. Begitu pentingnya air bagi manusia, maka air menjadi kebutuhan pokok. Manusia kuat bertahan hidup tanpa air hingga 1 minggu. Maka dari itu, mencari sumber air menjadi naluri alamiah manusia.

Bila diartikan, Suku Ngalum Ok memiliki arti serupa dengan naluri alamiah tersebut, yakni hidup mencari air. Suku tersebut sudah lama menghuni dataran tinggi Papua, yakni Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua. Penyebutan ngalum bagi suatu komunitas biasanya merujuk pada mereka yang tinggal di bagian timur Papua. Immanuel H. Mimin dalam tulisannya menyebutkan sebutan ngalum dapat diperuntukkan bagi mereka yang tinggal di bawah Gunung Aplim-Apom sampai ke arah timur pada telefomin Papua Nugini. Oleh sebab itu, sebenarnya penyebutan ngalum tidak merujuk pada satu komunitas saja.

Kata Ok pada Suku Ngalum Ok yang tinggal di Pegunungan Bintang memiliki makna lain selain Ok sebagai nama yang disematkan pada suku tersebut bukan dibaca oke melainkan dibaca ok. Menurut jurnal penelitian V. F. Agung Langgeng Prasetyo, mahasiswa yang meneliti Suku Ngalum Ok, kata tersebut diartikan sebagai air. Dalam tulisannya, air dapat dimaknai dari sudut pandang filosofis, teologis, dan ekologis oleh masyarakat setempat.

Air selalu berkaitan dengan komponen kehidupan lainnya. Secara filosofis, Ok yang berarti air menggambarkan masyarakatnya yang selalu hidup di dekat sumber air. Melalui sudut pandang teologis, Kata Ok juga diartikan sebagai kiasan yang merujuk pada sumber kehidupan, yakni Tuhan, atau dalam sebutan mereka Allah Atangki. Sedangkan dalam pandangan ekologis, air lekat dengan sumber penghidupan masyarakat, yakni tanah, tanaman, dan ternak.

Baca Juga: Mengenal Tradisi Injak Piring (Mansorandak) Khas Papua

Kepercayaan Suku Ngalum

Menurut kepercayaan mereka, Suku Ngalum Ok merupakan air merupakan karakter kehidupan mereka. Ok dimaknai sebagai objek yang tenang, damai, dan menyejukkan. Sifat-sifat air tersebut mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari dengan mengedepankan perdamaian dan kerukunan. Menurut Immanuel, Suku Ngalum Ok tak suka mencari masalah. Mereka kerap menghindari konflik demi menerapkan filosofi air dalam kehidupan mereka.

Sejak dahulu, Suku Ngalum percaya bahwa mereka adalah makhluk ciptaan Tuhan yang ditugaskan untuk menjaga alam Pegunungang Bintang. Atangki adalah sebutan bagi Tuhan dalam kepercayaan mereka. Melalui kepercayaan tersebut, Pegunungan Aplim-Apom, atau Puncak Mandala, merupakan wilayah yang sakral bagi masyarakat Pegunungan Bintang tersebut.

Untuk berkomunikasi dengan Sang Pencipta, masyarakat Ngalum Ok membangun rumah adat yang disebut dengan Ap I Wol. Rumah tersebut dimaknai sebagai warisan Tuhan yang dipercayai sebagai pintu masuk dan keluar antara Atangki dan manusia. Hal ini berkaitan dengan material pembentuknya. Rumah adat Suku Ngalum Ok terbuat dari bahan alam yang mana dalam kepercayaan mereka, alam adalah representasi dari Atangki.

Rumah Adat

Secara umum, masyarakat Ngalum Ok membangun dua 2 jenis rumah yang diperuntukkan untuk upacara adat dan sebagai tempat tinggal keluarga. Menurut Prasetyo dalam penelitiannya, tiap sendri bangunan Suku Ngalum memiliki nilai filosofis. Rumah yang diperuntukkan untuk keluarga, misalnya. Rumah tersebut memiliki dua pintu dengan fungsi yang berbeda. Pintu depan digunakan oleh perempuan, dan pintu belakang digunakan oleh laki-laki.

Pada bagian samping, terdapat area yang disebut sebagai yakan. Terdapat dua yakan dalam satu rumah yang tempatnya bersebelahan dengan tempat duduk laki-laki di ruang belakang, dan tempat duduk perempuan di ruang depan. Yakan yang berada dekat dengan tempat laki-laki dipergunakan untuk menyimpan peralatan cocok tanam, pakaian pria, dan makanan. Sedangkan pada bagian perempuan dipergunakan untuk menyimpan pakaian, alat berkebun, serta makanan untuk perempuan.

Ruang tengah yang memisahkan ruang laki-laki dan perempuan disebut dengan kutep. Ruang tersebut terdiri dari 4 pilar yang disebut dengan apeng. Guna pilar tersebut adalah untuk mengasap daging babi atau kayu. Di tengah ruangan terdapat perapian yang disebut dengan angol. Ruang ini dimaknai sebagai ruang kebersamaan dan kerukunan. Bagian bawahnya terdapat rongga yang disebut sektamon yang difungsikan untuk masuknya udara. Mereka percaya, rongga dari sektamon tersebut dapat mengusir penyakit.

Sedangkan di bagian depan rumah terdapat serambi atau teras yang disebut apsakbor dan okngomon. Bagian ini digunakan untuk menyimpan kayu bakar, bercocok tanam, hingga membuat kandang babi.

Pembagian area rumah berdasarkan fungsinya menggambarkan kearifan Suku Ngalum Ok. Bagian tersebut dipikirkan secara matang baik dari segi fungsi hingga filosofi. Bagaimana menurut Anda?