Manusia Terbaik dan Terburuk Menurut Rasulullah
Manusia Terbaik dan Terburuk Menurut Rasulullah

Manusia Terbaik dan Terburuk Menurut Rasulullah – Siapakah orang yang sukses? Umumnya, mereka yang sukses dalam kehidupan dunianya punya satu ciri-ciri dan sifat yang sama. Mereka adalah orang-orang yang memanfaatkan waktu yang mereka punya dengan sangat baik.

Kala orang lain bersenang-senang, mereka mengejar impian mereka. Mereka bangun lebih pagi dari kebanyakan orang dan bekerja lebih keras. Orang-orang sukses membayar lebih mahal demi kesuksesan mereka. Maka, mereka dapat meraih mimpinya.

Sebutlah Chairul Tanjung yang terkenal dengan kisah kesuksesannya. Ia adalah salah satu contoh orang yang benar-benar memanfaatkan waktunya. Ini sebabnya beliau mampu menjadi salah satu orang terkaya Indonesia.

Islam pun mengajarkan konsep ini. Dalam surat yang kita semua sudah hafal, Al Ashr, Allah menyebut orang-orang yang beruntung. Karena itu, penting bagi umat muslim untuk memahami hal ini. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَالْعَصْرِۙ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, nasihat-menasihati dengan kebenaran, serta nasihat-menasihati dalam kesabaran,” (QS al-Ashr: 1-3).

Surat pendek, namun mengandung makna yang sangat dalam. Kadang, kita melupakan nikmat Allah yang begitu besar, yakni waktu. Untuk itu, ayat ini akan mengingatkan kembali kepada kita perihal pentingnya waktu.

Manusia Terbaik adalah yang Memanfaatkan Waktu

Baca juga: Jangan Sampai Dipenjara Karena Hilang Kesabaran

Seorang laki-laki pernah bertanya tentang siapa orang terbaik menurut Rasulullah. Dari hadis riwayat Tirmidzi, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab,

أنَّ رجلًا قالَ : يا رسولَ اللَّهِ أيُّ النَّاسِ خيرٌ ؟ قالَ : مَن طالَ عمرُهُ ، وحَسنَ عملُهُ ، قالَ : فأيُّ النَّاسِ شرٌّ ؟ قالَ : مَن طالَ عمرُهُ وساءَ عملُهُ

“Beliau menjawab, ‘Orang yang panjang usianya dan baik amalnya.’ Beliau kembali ditanya, ‘Lalu siapa manusia terburuk?’ Jawab Rasul, ‘Orang yang panjang usianya tetapi jelek amalnya,” (HR at-Tirmidzi).

Hadis tersebut sesuai dengan firman Allah dalam surat Al Ashr. Bahwa, orang-orang yang terbaik adalah mereka yang memanfaatkan waktu mereka. Lantas, memanfaatkan dalam bentuk apa?

Jadi, Islam melihat mereka yang beruntung adalah mereka yang memanfaatkan waktu untuk menunaikan kewajiban kita sebagai manusia. Adapun kewajiban seorang muslim adalah beribadah kepada Allah. Hal ini sesuai dengan firman Allah ta’ala,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56)

Ibadah memiliki banyak sekali bentuk, mulai dari ibadah wajib hingga ibadah sunnah. Termasuk dalamnya adalah berbuat baik kepada sesama dan menuntut ilmu. Seluruh perbuatan baik perlu diniatkan untuk mencari ridha Allah. Maka, perilaku tersebut tercatat sebagai amalan baik.

Ini sekaligus menjelaskan siapa orang-orang terburuk. Mereka adalah yang menyia-nyiakan waktu dalam perkara yang tidak penting, bahkan melanggar aturan Allah. Tak perlu menggunakan kacamata agama Islam, kita pun tahu mereka yang hanya bermalas-malasan tidak akan meraih kesuksesan dalam hidupnya.

Mengapa Kita Harus Memanfaatkan Waktu?

Baca juga: PON XX Papua Tinggal Menghitung Bulan, Sudah Siapkah?

Meski mendapat predikat terbaik, kita perlu tahu hikmah dari memanfaatkan waktu. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لا تَزُولُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَدَمَا عَبْدٍ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ جَسَدِهِ فِيمَا أَبْلاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ فِيهِ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ أَخَذَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ

”Tidaklah bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat nanti sehingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa ia habiskan, masa mudanya untuk apa dipergunakan, ilmunya dalam hal apa ia amalkan, dan hartanya dari mana ia peroleh dan kemana ia belanjakan.” (Hadits sahih Riwayat At Tirmidzi dan Ad Darimi)

Adapun mereka yang memanfaatkan waktu adalah orang yang cerdas dan bijak. Kelak, seluruh perbuatan manusia akan dimintai pertanggungjawabannya. Termasuk dihabiskan untuk apa waktu yang mereka punya.

Misalnya, dalam satu hari kita punya 24 jam. Dari sana, kita bisa memilah dan membagi waktu untuk melakukan hal-hal bermanfaat, termasuk ibadah. Pertama, kita membagi waktu kira-kira berapa jam waktu istirahat kita. Jika dalam sehari kita istirahat selama 8 jam, maka kita punya 16 jam untuk melakukan hal lain.

Kedua, kita mulai prioritaskan apa yang penting dalam hidup kita. Misalnya, dari sisa waktu yang kita punya, yakni 16 jam, berapa yang kita butuhkan untuk bekerja atau sekolah. Umumnya, orang bekerja dan sekolah selama 8 hingga 10 jam. Artinya, kita masih punya 6 hingga 8 jam.

Ketiga, kita manfaatkan waktu sisanya untuk hal lain, seperti hobi atau bahkan untuk beribadah.

Mereka yang terbaik selalu memikirkan untuk apa waktu yang mereka sudah habiskan. Apakah untuk yang bermanfaat? Atau sebaliknya?

Semoga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang mampu memanfaatkan waktu dengan baik.