Markus Seseray, Pengusaha Sukses Asal Papua
Beritapapua.id - Markus Seseray, Pengusaha Sukses Asal Papua - Tempo

Markus Seseray, Pengusaha Sukses Asal Papua – “Saya ke sana (Nabire) jadi motivator. Kalau bisa teman-teman daerah seperti begini. Kami sendiri merasakan, dengan bergabung dengan SRC, ada perubahan pendapatan, bertambah. Perubahan itu ke arah yang lebih baik,” jelas Markus Seseray, pengusaha sukses asal Papua.

Markus tak menyangka bahwa ia dapat menjadi seorang pengusaha sukses. Tak hanya memiliki beberapa sumber penghasilan, namun ia juga berhasil menjadi seorang motivator. Baginya, dapat memberikan pengalaman hidup dan inspirasi kepada warga lain merupakan hal yang begitu berharga.

Perjalanan Markus dalam meniti jalan wirausaha tidak-lah mudah. Pasalnya, ia bukan lulusan sekolah ternama atau memiliki sertifikasi pelatihan bisnis. Seluruhnya ia peroleh dari pengalamannya dan bantuan dari orang-orang terdekatnya.

Jauh sebelum Markus merintis usahanya, ia sempat merantau ke Negeri Jepang. Tahun 1996, ia berkesempatan untuk mengikuti pertukaran pelajar Papua ke Jepang. Namun, lantaran kendala bahasa, ia tidak bisa tinggal lama.

Semangatnya belum pupus. Setelah pulang dari jepang, ia kembali berkesempatan untuk pergi ke Jepang untuk bekerja dalam sebuah perusahaan industri.

“Kalau berhasil di sana (Jepang), saya harus pulang buka lapangan kerja,” ucap Markus.

Tak lama, kesempatan itu pun datang padanya.

Baca Juga: Wapres: Produksi Vaksin Covid-19 Harus Dipercepat

Kisah Markus Membangun Tanah Kelahirannya

Tahun 2000, Markus hendak pulang ke Papua untuk memenuhi janjinya. Janji seorang pemuda Papua untuk membangun negerinya.

“Saya pikir ada peluang kembali ke sana. Saya sudah punya modal sedikit yang bisa dipakai untuk berwiraswasta di Papua. Apalagi setelah otsus, putra Papua diperhatikan, diberikan kemudahan,” tutur Markus.

Bermodalkan tabungan hasil bekerja dari Jepang, ia mulai membangun usaha. Awalnya, ia membeli tanah di Jayapura dan membangun toko. Ia mulai merintis usahanya pada tahun 2004. Tak hanya toko yang terus berkembang, ia juga memiliki 16 meja billiar dan membuka warung telekomunikasi.

Namun seiring dengan berkembangnya zaman, warung telekomunikasinya tutup. Sebab penggunaan ponsel merajalela sehingga wartel Markus harus gulung tikar. Namun, ia tak putus semangat. Ia kemudian membangun toko kelontong dan bisnis fotokopi dari sisa wartelnya.

Pada tahun 2012, ia mendapatkan pembinaan dari program UKM Binaan Sampoerna. Itu menjadi batu loncatan Markus untuk mewujudkan impiannya. Selanjutnya, Ia memulai dari usaha dengan lima orang karyawan hingga kini dapat membantu sanak saudaranya.

Semua berawal dari tekad yang kuat.