Masalah Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri
beritapapua.id - Masalah Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri - Fajar Indonesia Network

Tenaga kerja indonesia atau biasa disebut TKI sudah ada sejak zaman kolonialisme belanda sebelum indonesia merdeka tepatnya pada tahun 1890. Dimulai saat Pemerintah Hindia Belanda mengirim buruh kontrak ke negara Suriname, Amerika Selatan jajahan Belanda saat itu, dengan tujuan  untuk mengurus perkebunan yang di kenal dengan istilah pekerja pribumi. Gelombang pertama TKI dikirim ke Suriname pada 9 Agustus 1890 dengan jumlah 94 orang. Setelah itu pemerintah Hindia Belanda secara reguler mengirimkan TKI ke Suriname, hingga berakhir pada tahun 1939 dengan jumlah total TKI mencapai 32.986 orang.

Setelah kemerdekaan kebijakan pengiriman buruh ke luar negeri justru diteruskan oleh pemerintah Indonesia ke berbagai negara. Karena jumlahnya yang semakin bertambah, akhirnya pemerintah membuat aturan pengiriman jasa tenaga kerja Indonesia ke luar negeri. Tepatnya setelah tahun 1980, pemerintah menetapkan regulasi untuk mengatur pengiriman TKI karena pemerintah melihat nilai positif dan nilai ekonomis tinggi. Sampai saat ini sudah terdapat berbagai regulasi yang mengatur mengenai perlindungan atas penempatan TKI.

Baca Juga: Informasi Terkait Covid-19 Papua Barat

Tenaga Kerja Indonesia Lebih Memilih Bekerja di Luar Negeri

Banyak orang Indonesia yang memilih untuk bekerja di luar negeri daripada bekerja di negeri sendiri, yang disebabkan oleh beberapa faktor, Pertama adalah pekerjaan dan upah sangat tidak sepadan. Kedua, karena mereka yang melihat peluang masa depan yang lebih menjanjikan di negara lain. Ketiga, mereka merasa lebih dihargai pada saat bekerja luar negeri dibandingkan dinegari sendiri. Keempat, dikarenakan ingin adanya peningkatan kesejahteraan keluarga atau bahkan ingin mencari modal untuk membuka usaha di Indonesia.

Terkadang menjadi TKI mendapatkan keuntungan yang memuaskan dari upah yang diterima dalam mata uang asing sehingga apabila di jadikan rupiah mendapatkan hasil yang besar. Inilah yang mendorong banyaknya orang memilih menjadi TKI agar dapat membiayai keluarganya yang berada di Indonesia. Selain itu, mereka juga mendapatkan peningkatan status sosial serta wawasan yang luas meningkatkan kualitas hidup mereka. Hal itulah yang menjadi incaran para TKI saat pulang ke Indonesia. Selain keuntungan yang didapat, tidak sedikit pula kerugian yang didapat oleh para TKI. Banyak biaya yang keluar seperti, biaya perjalanan, pembuatan passport dan dokumen-dokumen lainnya, yang mengakitbatkan mereka kadang harus berhutang untuk memenuhi itu semua. Disisi lain banyak TKI yang diperlakukan tidak manusiawi saat bekerja. Hingga akhirnya TKI yang pulang dengan keadaan yang mengenaskan.

Kepadatan penduduk ini menimbulkan masalah pengangguran. Hal inilah yang menjadi salah satu penyebab yang melatar belakangi pemerintah mengirim tenaga kerja ke luar negeri guna untuk menanggulangi masalah pengangguran tersebut. TKI juga dikenal sebagai pahlawan devisa Negara, tapi sayagnnya  jasa mereka masih belum dihargai, terbukti dari banyaknya kasus TKI yang mendapat kekerasan. Masalah dalam TKI ini dapat timbul karena persiapan di dalam negeri belum optimal, sebagian besarnya karena permasalahan sebelum keberangkatan.

Peranan Tenaga Kerja Indonesia

Tenaga Kerja Indonesia memang sangat mempunyai andil besar terhadap pembangunan Negara Indonesia. Hal tersebut dikarenakan Tenaga Kerja Indonesia dapat menyumbang devisa yang cukup besar dan mengurangi jumlah pengangguran. Namun, tentunya diperlukan juga peran Pemerintah dalam hal pengawasan dan pembinaan bagi para Tenaga Kerja agar tidak terjadi kekerasan seperti kasus-kasus sebelumnya. Dan pemerintah harus lebih memperhatikan tentang jaminan hidup kepada para TKI yang bekerja di luar negeri selain itu lebih memperketat pengawasan hukum terhadap kasus kasus TKI yang tidak mempunyai izin kerja yang legal.