Memaknai Hantaran Rasa Lewat Bahasa Melalui Polemik Nasi Anjing
beritapapua.id - Bungkusan nasi bantuan Yayasan Qahal Family di Warakas, Tanjung Priok yang menjadi polemik beberapa hari ke belakang. Foto: tribunnews.

Seorang ibu, warga dari Warakas, Tanjung Priok, Jakarta Utara kelihatan heboh di dalam sebuah video berdurasi pendek ketika menerima bantuan nasi bungkus yang bertuliskan “Nasi Anjing”.

Kehebohan yang menjadi polemik di masyarakat ini sempat memantik kemarahan warga. Anggapan bahwa nasi bantuan yang didistribusikan oleh Yayasan Qahal Family merupakan nasi dengan lauk daging anjing. Tentu kekeliruan ini timbul karena salah memaknai nama yang distempel di bungkus nasi tersebut. Apalagi hal ini terjadi di kala umat Muslim sedang menjalani ibadah puasa di Bulan Ramadhan.

Padahal nasi bungkus tersebut berisikan nasi dengan lauk ayam suwir dan aneka sayuran serta bakso sapi. Layaknya nasi bungkus yang kerap kita temui, “nasi anjing” pun tak beda. Penerimaan rasa dari bahasa yang digunakan menjadikan kekeliruan persepsi itu terjadi.

Klarifikasi telah dilakukan pihak Yayasan Qahal Family. Pihak Yayasan dan warga Warakas yang dimediasi oleh pihak kepolisian sepakat, ini hanyalah kesalah pahaman saja. Kedua belah pihak kemudian memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan polemik ini.

Sebenarnya polemik ini tidak perlu terjadi, jika saja Yayasan Qahal Family bisa lebih berhati-hati dalam penggunaan istilah. Bahasa adalah persoalan rasa yang dihantarkan melalui kata-kata kepada penerimanya.

Baca Juga: 4 Titik Ini yang Terima Bantuan Sembako di Bintuni

Beda Latar Belakang, Beda Rasa, Beda Makna Pula

Tone negatif yang diterima dari kata “nasi anjing” sudah tentu tak terlepas dari maksud dan penggunaan kesehariannya. Anjing sampai sekarang masih menjadi kata makian jika dipergunakan dalam keseharian pergaulan.

Itupun tergantung dari lawan bicara kita. Ada kalangan yang akan terkesan biasa saja dengan penggunaan kata ini. Jika digunakan antar pihak yang seumuran dan akrab, maka kata anjing dalam interaksi sosial tak mempunyai makna negatif. Budaya pergaulan pun mempunyai pengaruh besar terhadap pemaknaan kata anjing.

Sepanjang pantauan, orang-orang muda di Bandung paling sering menggunakan kata anjing atau anying dalam kalimat pergaulan mereka. Jawa Timur pun demikian. Makna dari asu tidak akan mendapat penerimaan negatif ketika digunakan pada saat yang tepat dan pas.

Tentu hal ini tidak bisa dijadikan acuan ketika kita berhadapan dengan orang yang berlatar belakang berbeda. Apalagi jika digunakan dalam suatu kegiatan umum, yang bisa dikatakan semi formal, seperti pembagian nasi bantuan kepada warga.

Perbuatan dan maksud baik dari Yayasan Qahal Family, menjadi bias dan ambigu hanya dari kata yang dipergunakan dalam pemberian nama. Perpaduan antara sentimen dan ketidak tahuan akan menyertai pemaknaan dari penerima bahasa yang dipergunakan tersebut.

Penggunaan kata pada saat dan tempat yang benar sangat mempengaruhi makna dari kata tersebut. Jika saja kata “nasi anjing” dicantumkan sebagai menu di depot atau restoran yang nyeleneh, tentu tidak akan menjadi polemik. Hal ini akan membiaskan seluruh persepsi negatif, sama halnya dengan “nasi jancuk” yang hingga sekarang telah diterima masyarakat.

Berhati-hatilah dalam menggunakan suatu istilah kata. Karena dari satu kata bisa menjadi seribu tafsir jika diterima oleh orang yang berbeda pula. Apalagi jika diantara dua kata “nasi anjing” tersebut dipisahkan oleh tanda baca “koma”.