Memaknai Isra Mi’raj pada Era Millennial
Memaknai Isra Mi’raj pada Era Millennial. Sumber: Google

Memaknai Isra Mi’raj pada Era Millennial – Tak terasa, kita akan segera memperingati Isra Mi’raj pada tahun 2021 ini. Isra Mi’raj akan jatuh pada tanggal 27 Rajab atau 12 Maret pada tanggalan masehi. Dengan demikian, perlulah kita sebagai muslim mempersiapkan diri.

Isra Mi’raj adalah suatu momen kala Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam melakukan perjalanan sehari semalam menghadap Allah. Mulai dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa, kemudian lanjut ke Sidratil Muntaha.

Momen tersebut juga menunjukkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam mendapatkan keistimewaan dari Allah ta’ala. Menurut sejumlah sumber, kata Isra dan Mi’raj memiliki maknanya masing-masing.

Isra merujuk pada perjalanan Rasul dari Masjidil Haram ke Madinah. Sedangkan Mi’raj menjelaskan perjalanan Nabi dari Madinah ke Sidratul Muntaha. Dari peristiwa tersebut, maka lahirlah perintah untuk salat 5 waktu.

Tak sedikit dari kita umat muslim memahami kisah Isra dan Mi’raj. Dari peristiwa tersebut kita dapat memetik pelajaran dan hikmah. Salah satunya tentang besarnya kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.

Tahun saat Nabi melaksanakan Isra dan Mi’raj adalah tahun yang berat baginya. Bahwa, Nabi kehilangan 2 orang yang sangat ia cintai, yakni pamannya, Abu Thalib, dan Istrinya tercinta, Khadijah.

Lantas, Allah berfirman dalam surat Al Isra ayat 1,

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَاۚإِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Isra’: 1)

Inilah salah satu keutamaan mempelajari sirah nabawi atau sejarah perjuangan Nabi. Hikah dari peristiwa ini tak lekang oleh waktu. Begitu pula pada zaman modern seperti saat ini.

Tantangan Ketaatan pada Era Modern: Maksiat Selalu Mengintai

Baca juga: Warga Berharap Pemkab Segera Bantu Tiga Kampung di Distrik Hagio

Dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَيْلَةَ أُسْرِىَ بِهِ مَرَّ عَلَى إِبْرَاهِيمَ فَقَالَ مَنْ مَعَكَ يَا جِبْرِيلُ قَالَ هَذَا مُحَمَّدٌ.فَقَالَ لَهُ إِبْرَاهِيمُ مُرْ أُمَّتَكَ فَلْيُكْثِرُوا مِنْ غِرَاسِ الْجَنَّةِ فَإِنَّ تُرْبَتَهَا طَيِّبَةٌ وَأَرْضَهَا وَاسِعَةٌ. قَالَ « وَمَا غِرَاسُ الْجَنَّةِ ». قَالَ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada malam Isra’, pernah melewati Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Nabi Ibrahim ketika itu bertanya pada malaikat Jibril, “Siapa yang bersamamu wahai Jibril?” Ia menjawab, “Muhammad.” Ibrahim pun mengatakan pada Muhammad, “Perintahkanlah pada umatmu untuk membiasakan memperbanyak (bacaan dzikir) yang nantinya akan menjadi tanaman surga, tanahnya begitu subur, juga lahannya begitu luas.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Apa itu ghirosul jannah (tanaman surga)?’ Ia menjawab, ‘Laa hawla wa laa quwwata illa billah (tidak ada daya dalam menjauhi maksiat dan tidak ada upaya menjalankan ketaatan melainkan dengan pertolongan Allah, pen.).” (HR. Ahmad, 5: 418)

Berdasarkan hadis tersebut, ada satu poin penting yang perlu kita pahami bersama. Bahwa, Nabi Ibrahim meminta Nabi Muhammad agar umatnya terus berdzikir. Adapun makna dari berdzikir tersebut adalah menjauhi segala maksiat dan melakukan ketaatan.

Melakukan wasiat tersebut pada era modern saat ini adalah hal yang sulit. Bayangkan, fitnah dan cobaan menyerang manusia dari segala penjuru dan segala waktu.

Pertama, teknologi dan informasi yang seharusnya membantu, justru dapat merusak keimanan seseorang. Berbagai tayangan dan konten yang tidak berfaedah kerap muncul pada beranda media sosial kita.

Kedua, kita berbicara soal perangkat lunak yang biasa kita sebut dengan telepon genggam. Handphone membuka peluang untuk melakukan banyak maksiat. Mulai dari mengakses konten negatif, hingga hal negatif lainnya.

Makna Isra Mi’raj: Melawan Maksiat saat Sendirian

Baca juga: Bencana Alam Takdir atau Bukan? Mari Simak Ini

Menjadi tantangan bagi muslim pada era modern untuk menjaga iman kala sendirian. Teknologi dan informasi membuat manusia mampu melakukan apa saja saat mereka sendirian. Termasuk maksiat.

Menanggapi hal tersebut, Allah berfirman dalam surat An-Nisa ayat 108,

يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لَا يَرْضَى مِنَ الْقَوْلِ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطًا

“Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridhai. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan.”

Dengan demikian, kita sebagai muslim yang hidup pada era modern perlu mewaspadai perkembangan teknologi ini. Benar bahwa teknologi memudahkan kita untuk melakukan berbagai macam aktivitas. Namun, kita perlu memanfaatkan secara benar.

Memaknai Isra Mi’raj bagi masyarakat modern dapat berbentuk melawan diri sendiri dari perbuatan maksiat saat sendirian. Kita dapat memulai memaknai Isra Mi’raj dapat dengan memahami kalimat Laa hawla wa laa quwwata illa billah.

Artinya, kita tidak dapat bersembunyi dari Allah maupun menyembunyikan sesuatu dari-Nya. Meski tidak ada yang tahu bahwa kita melakukan maksiat dengan handphone kita, tapi ingatlah bahwa Allah selalu tahu.