Memaknai Kemanusiaan Sebelum Keberagamaan
beritapapua.id - Memaknai Kemanusiaan Sebelum Keberagamaan - Blogunik

“Semua kita adalah sesaudara dalam keimanan; jikapun tidak sesaudara dalam keimanan, kita adalah sesaudara dalam kemanusiaan.” Melihat konteks obyek ucapan tersebut yang ditujukan kepada seorang pemimpin, dapat diyakini bahwa maksud dan tujuannya adalah agar berbuat adil dan baik kepada semua rakyat, lintas iman.

Pada berbagai kejadian nyata di sekitar kita hari ini, beberapa kali kita menyaksikan sejumlah orang dari ormas-ormas tertentu mendakwahkan Islam. Namun, mereka memberikan dakwah yang tidak dengan menghamparkan sentuhan-sentuhan kemanusiaan itu.

Razia, bentakan, teriakan, makian, hingga gebukan, itu semua jelas bukanlah jalan yang selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan universal–juga jelas bertentangan dengan al-Qur’an surat An-Nahl 125 (“Ajaklah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah/cinta….”) dan asas amar ma’ruf yang wajib dijalankan dengan cara-cara makruf, bukan dengan cara-cara mungkar agar tak menjadi gerakan amar munkar.

Baca Juga: Ayub Antoh Fasih Nyanyikan Lagu Didi Kempot

Pentingnya Nilai-Nilai Kemanusiaan

Tempo hari, di bulan Ramadhan 2020 ini, hal sejenis kembali terjadi. Sebuah warung yang jualan makanan di siang hari digeruduk dengan kasar dan keras. Tidak hanya itu, makian dan bentakan ikut terlontar. Bahkan dikabarkan ibu penjualnya sempat dipukul pakai kayu. Padahal dalam ajaran setiap agama, menghormati dan berwelas asih dalam hidup bermasyarakat selalu menjadi hal yang pantas untuk direnungkan dan dijalankan bersama.

Hati yang merupakan rumah dan gudangnya iman tidak dapat menemukan ketenangannya ketika tidak berdasarkan pada ajaran-ajaran yang benar. Karenanya, betapapun seseorang mengira bahwa imannya telah kuat, tetapi dia tidak peduli kepada ikatan-ikatan kemanusiaan, maka bangunan keimanan di hatinya hanyalah berada di tepi jurang yang akan segera runtuh pada awal guncangan yang menimpanya.

Bahkan akal yang merupakan tempat menerima perintah tidak dapat melihat perkara dengan bebas dan mandiri ketika tidak ada rasa aman. Sehingga pilihannya tidak menjadi pilihan yang sebenarnya dan keputusan-keputusannya tidak matang.

Iman itu menetap di hati manusia. Perhatikan dengan baik kata-kata ini: ‘Iman itu menetap di dalam hati manusia!’

Maka bila tanpa ‘hati manusia’, tidak ada ketetapan yang hakiki bagi iman, serupa apa pun bentuk ibadah yang dilakukannya atau bagaimanapun ia membaca firman Allah Swt dengan tartil….”