Memaknai Nginang Tak Sekadar Budaya Penguat Gigi
beritapapua.id - Memaknai Nginang Tak Sekadar Budaya Penguat Gigi - IndonesiaKaya

“Rokok berbahaya, nginang bagaimana?”

Dalam memaknai tradisi nginang sirih dan kapur, sebagian dari orang tua pada zaman dahulu menganggapnya bukan sekadar untuk menguatkan gigi. Masih-masih bahan untuk nginang memiliki makna filosofis yang tak banyak orang tahu. Nginang biasanya menggunakan daun sirih, kapur sirih, pinang, dan gambir. Ada juga yang menambahkan daun tembakau dan daun kinang. Meski tradisi ini kerap disandingkan dengan masyarakat Jawa, namun beberapa sumber justru mengatakan bahwa tradisi ini tersebar di Nusantara.

Sebagian masyarakat lainnya menyebut tradisi nginang dengan sebutan nyirih. Orang-orang di Jawa, kebanyakan, tak hanya sekadar mengunyah buah pinang itu, melainkan menggosok-gosokkannya ke gigi mereka. Konon, tradisi ini dipercaya mampu menguatkan gigi mereka. Tak hanya kuat, bau mulut pun hilang. Meski begitu, siap-siap, gigi akan mulau berubah warna menjadi agak kecokelatan.

Budaya makan pinang tersebar dari Sumatra, Jawa, Kalimantan hingga Papua. Bahkan sang penjelajah, Marcopolo, mencatat dalam catatan perjalanannya soal budaya nginang di Nusantara. Ibnu Batutah dan Vasco da Gama juga menemukan hal serupa pada masyarakat Indonesia bagian timur. Praktik mengunyah nginang dianggap sebagai upaya masyarakat tradisional untuk menjaga kesehatan giginya.

Saat ini, dengan adanya perkembangan teknologi, kebiasaan nyirih mulai hilang. Kehadiran pasta gigi dengan rasanya yang menyegarkan menggantikan kedigdayaan khasiat nginang yang rasanya pahit itu. Anak-anak muda sudah tak ada yang nginang. Meski masih ada sebagian kecil anak muda di Bali yang melestarikan adat ini. Meski tergerus zaman, namun filosofi nginang jangan sampai hilang. Apakah itu?

Baca Juga: Pertamina Serahkan Tandon Air Cegah COVID-19 di Jayapura

Filosofi Nyirih oleh Orang Dulu

Menyoal makna dari bahan-bahan yang terdapat pada tradisi nyirih, akun instagram followbuiriana menjelaskan hal yang menarik. Orang-orang zaman dahulu tak hanya sekadar nyirih, tapi juga memikirkan filosofi nyirih itu sendiri.

Sirih menggambarkan kerendahan hati dan menjadi pribadi yang meneduhkan. Kemudian, kapur dimaknai sebagai hati yang tulus dan bersih. Sedangkan pinang adalah keteguhan hati, kejujuran, serta kesungguhan dalam bekerja. Pada sebagian masyarakat yang menggunakan gambir, maka tumbuhan itu menggambarkan sifat sabar.

Seluruh bahan dicampur menjadi satu kesatuan yang pas. Cita rasa khas dari nyirih ini memiliki makna tersendiri. Tradisi itu merupakan gambaran dalam meraih cita-cita. Meski pahit, seluruh rangkaian perjalanan dalam meraih asa harus dijalani dengan sungguh-sungguh, sabar, tulus, dan bersih. Setelah melewati itu semua, maka diri akan menjadi kuat, tanpa kita sadari. Begitulah kurang lebih filosofi nyirih yang digambarkan oleh orang dahulu.

Menurutmu, Bu Iriana Jokowi menerapkan filosofi itu kah?