Memaksimalkan Produksi Perikanan Nelayan Teluk Bintuni dengan Tambak
beritapapua.id - Pembuatan tambak kolam penampungan kepiting untuk dibudidayakan dan dikelola oleh Kelompok Nelayan, Sahabat Mangrove Teluk Bintuni. Foto: Yohanes Akwan

Memaksimalkan Produksi Perikanan Teluk Bintuni dengan Tambak – Lembaga Swadaya Masyarakat Perkumpulan Bin Madag Hom (P-BMH) yang bergerak di bidang konservasi dan advokasi hak-hak Masyarakat Adat Papua, telah mengadvokasi dan membentuk setidaknya tujuh kelompok nelayan dari komunitas Sahabat Mangrove Bintuni, untuk mengelola serta memaksimalkan hasil tangkapan kepiting dengan membangun bank penampungan kepiting di hutan mangrove Teluk Bintuni.

Kepiting yang merupakan salah satu biota hutan mangrove Teluk Bintuni, menjadi salah satu produksi perikanan yang menjadi andalan masyarakat sekitar. Namun, dengan masih tradisionalnya cara penangkapan dan pengolahannya, hasil dari produk kepiting ini dirasa kurang maksimal.

Oleh karena itu, dengan dibentuknya serikat-serikat serta keloompok nelayan, Yohanes Akwan, selaku direktur P-MBH berharap, peningkatan keahlian akan dilakukan melalui edukasi dan advokasi. Serta pengelolaan yang baik dan tepat guna dari hasil perikanan ini.

“Kami sudah mendorong terbentuknya serikat nelayan sahabat mangrove Teluk Bintuni. Saat ini kelompok nelayan lokal yang sudah kami bentuk, sudah mulai melaut dan kami juga memiliki satu motor tempel 15 PK dan satu unit perahu fiber sedang berjalan utk mencari ikan. Motor tempel kita hanya satu. Maka digunakan secara bergantian oleh tujuh kelompok nelayan Komunitas Sahabat Mangrove di Kota Bintuni,” ujar Yohanes.

Baca Juga: Burung Yang Menjadi Lambang Negara

Membangun Tambak Sebagai Bank Penampungan Kepiting

Memaksimalkan Produksi Perikanan Nelayan Teluk Bintuni dengan Tambak
beritapapua.id – Bank penampungan kepiting sebagai reservasi hasil tangkapan nelayan yang sudah hampir selesai dikerjakan. Foto: Yohanes Akwan

Di tengah pandemik covid-19 yang mulai berimbas ke Kabupaten Teluk Bintuni, Yohanes Akwan melalui LSMnya tetap mengadvokasi kelompok nelayan. Hal tersebut guna memaksimalkan nilai produksi kepiting dengan cara membangun tambak penampungan di dalam hutan mangrove sebagai bank penampungan hasil.

Dengan cara tersebut, kelola hasil tangkapan akan menjadi lebih baik dibandingkan dengan cara konservatif “tangkap – jual” yang selama ini dilakukan oleh nelayan-nelayan Teluk Bintuni. Dibangunnya bank-bank penampungan hasil tangkapan kepiting, maka nelayan akan terhindar dari risiko rugi, jika hasil tangkapannya tidak laku terjual.

“Kolamnya seluas 50×50 persegi ini sudah selesai dikerjakan. Tinggal menyiapkan teknis insfrakturnya agar kepiting tidak lari. Kami juga sedang mengejar waktu pembangunan agar di saat pandemi ini, masyarakat tidak kesusahan mencari kepiting. Jika ada pembelian, akan kami layani dengan pesan antar. Seperti penjualan sayur mayur segar online yang selama ini dikerjakan,” tambah Yohanes.

Pembangunan tambak sebagai bagian dari advokasi dan edukasi yang dilakukan oleh LSM P-BMH ini, sebenarnya telah dilakukan jauh hari sebelum adanya pandemi covid-19. Upaya yang mendapatkan respon positif dari Pemda seyogyanya akan terus dikembangkan agar lebih banyak lagi kelompok nelayan yang lain di Kabupaten Teluk Bintuni menggunakan cara-cara yang sama. Oleh karena itu, aktivitas LSM P-BMH ini akan terus dilakukan dari satu kelompok nelayan ke kelompok nelayan lainnya di Teluk Bintuni.

Dengan adanya upaya advokasi serta edukasi dari LSM setempat perihal hutan mangrove serta pemanfaatan biota yang terkandung di dalamnya, diharapkan masyarakat akan lebih terbantukan serta memahami pentingnya pelestarian hutan mangrove yang bisa dikatakan sebagai nadi kehidupan Teluk Bintuni. Ini sejalan dengan apa yang sedang diupayakan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Teluk Bintuni dalam hal konservasi hutan mangrove.