Memberantas Prostitusi Anak
Memberantas Prostitusi Anak

Memberantas Prostitusi Anak – Hotel milik Cynthiara Alona, seorang selebritas Indonesia terekspos dijadikan tempat prostitusi anak di bawah umur. Cynthiara sendiri sudah ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan praktik prostitusi ini. Hal ini diungkap dalam jumpa pers yang dilakukan oleh Polda Metro Jaya, pada (19/3) lalu.

Kombes Yusri Yunus, Divhumas Polda Metro mengatakan, korban yang masih di bawah umur ditawarkan melalui media sosial seperti MiChat atau Whatsapp dengan tarif ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

Tarif yang telah ditentukan oleh para penjaja ini, kemudian akan dibagi-bagikan terlebih dahulu untuk para perantara, dari joki hingga pemilik hotel. Anak yang menjadi korban hanya mendapatkan sisa dari apa yang telah dibagi. Mirisnya, korban tidak hanya melayani satu tamu saja dalam satu hari, namun bisa dua sampai tiga kali.

Kemudahan Akses Internet Memperparah Eksploitasi Anak

Baca juga: Jaga Kesehatan Paru-Paru dengan Konsumsi 3 Vitamin Ini!

Mudahnya menjangkau pria hidung belang melalui aplikasi pada gawai pintar, membuat bisnis ini semakin menjamur. Kasus prostitusi anak yang terjadi di hotel milik Cynthiara, hanya salah satu dari sekian banyak yang diungkap.

Sukarela atau tidak seorang anak dalam eksploitasi dan praktik prostitusi ini, haruslah dianggap sebagai korban. Dan perbuatannya harus dianggap sebagai bentuk kejahatan. Belum sempurnya kemampuan berpikir anak di bawah umur, menjadi salah satu unsur kenapa hal ini bisa disimpulkan.

Memberantas Prostitusi Anak Dengan Tindak Pidana

Baca juga: Ancaman Penjara Untuk Pimpinan Pondok Pesantren Pelaku Pencabulan

Dalam konvensi No. 182 mengenai Pelarangan dan Tindakan Segera untuk Penghapusan Bentuk-Bentuk Pekerjaan Terburuk untuk Anak. Disebutkan bahwa pemanfaatan, penyediaan atau penawaran anak untuk pelacuran adalah salah satu bentuk pekerjaan terburuk untuk anak.

Sedangkan untuk dasar hukum yang bisa menjerat para pelaku ini dalam tindak pidana prostitusi anak di bawah umur, diatur di dalam Pasal 88 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang berbunyi:

“bahwa setiap orang yang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan eksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual terhadap anak dapat dipidana penjara paling lama 10 tahun dan/atau denda paling banyak Rp200 juta.”

Prostitusi anak di bawah umur membutuhkan peran serta dan kepedulian aktif dari keluarga dan masyarakat sekitar. Edukasi yang aktif dari lembaga-lembaga anak dan perempuan secara efektif harus bisa menjangkau serta memberikan pembinaan yang lebih untuk menghindarkan anak-anak untuk bisa terbebas dari eksploitasi yang lebih lanjut.

Gaya hidup dan pergaulan glamor yang disuguhkan oleh para influencer melalui media sosial juga paling tidak menyumbang sedikit terhadap terjerumusnya seorang anak pada praktik prostitusi ini. Mereka bisa saja terbuai dengan keinginan untuk secara instan mendapatkan materi selayaknya yang dipamerkan oleh para selebgram.