Memekik, Mengerang, Memuja Perang Dari Suku Dani
beritapapua.id - Memekik, Mengerang, Memuja Perang Dari Suku Dani - baliemfestival.com

“Mereka memuja perang”
Rekonstruksi perang suku Dani, Festival Lembah Baliem.

Anak panah melayang, melesat ke arah sekelompok pria dengan koteka. Sebagian dari mereka menggenggam panah, dan sebagiannya lagi membawa tombak. Erangan dan pekikan perang terdengar riuh. Itu adalah seni, keindahan Lembah Baliem sudah mendunia. Lewat Festival Lembah Baliem, masyarakat dunia dapat menyaksikan dengan mata kepala sendiri kearifan budaya masyarakat Lembah Baliem. Bukan hanya disuguhi pemandangan padang rumput dan gunung yang menjulang tinggi, namun juga kearifan rekonstruksi budaya perang.

Hidup di lembah dan lereng Gunung Jayawijaya, suku Dani merupakan salah satu suku tertua, peninggalan peradaban zaman batu, yang hingga kini masih hidup lepas. Meski zaman sudah berkembang, masyarakat Dani masih memegang teguh sejumlah tradisi yang diwariskan oleh leluhurnya. Salah satu budaya yang masih dipegang teguh ialah budaya berperang.

Wilayah suku Dani terletak di Timur Laut Kabupaten Jayapura. Alamnya asri nan indah, dengan kepolosan masyarakat tradisional yang sederhana. Masyarakatnya menyebut diri mereka Nit Baliemege, yang artinya “kami orang Baliem”. Pada tahun 1926, ekspedisi Sterling menggunakan istilah Dani, sebuah ungkapan dari masyarakat Moni dan Damal untuk menyebut warga tetangganya yang tak lain adalah suku Dani. Kata Dani itu sendiri berasal dari kata “Lani” yang artinya tetangga.

Baca Juga: WNI dari China Disemprot Cairan Khusus, Warga Natuna Protes

Budaya Perang Sebagai Warisan Nenek Moyang

Seperti yang disinggung sebelumnya, suku Dani masih mempertahankan budaya perangnya. Budaya ini dipertahankan dalam rangka menghargai warisan nenek moyang mereka. Masyarakatnya sangat menjunjung tinggi leluhur atau nenek moyang. Atou, sebutan untuk nenek moyang, merupakan konsep kepercayaan yang dianut suku Dani. Mereka percaya bahwa leluhur mereka menurunkan kekuatan pada kaum laki-laki untuk menjaga kebun, menolak bala, dan menyuburkan tanah.

Dalam rangka memuja dan menghormati leluhur, masyarakat suku Dani melambangkan leluhurnya dengan simbol yang disebut dengan kaneka, atau batu hitam. Kaneka dihadirkan dalam upacara keagamaan bersamaa dengan ye (kapak batu), su (anak panah), tulang kepala manusia, dan tulang kaki manusia. Hal ini dimaksudkan untuk menghadirkan para leluhur mereka yang gugur dalam perang, mengorbankan diri untuk melindungi masyarakat.

Mereka memuja perang, layaknya mereka menghormati leluhurnya. Sebuah kepercayaan untuk mempertahankan keluarga, sanak saudara, tanah tempat tinggal. Mengasah ketajaman insting, strategi perang, gotong royong, bahu membahu. Rekonstruksi perang berdarah menjadi sebuah kompetisi.