Menaati Aturan Memang Ada Dalil Islamnya?
Ilustrasi menaati aturan (foto : istimewa)

Coba kita tanyakan pertanyaan ini kepada Anda pribadi, ‘apakah menaati peraturan adalah hal yang wajib dalam Islam?’ Faktanya, masih banyak orang yang dengan mudahnya melanggar peraturan. Misalnya, aturan lalu lintas.

Tak memandang agama, baik Islam maupun agama lainnya, melanggar aturan lalu lintas agaknya sudah menjadi hal yang lazim. Mulai dari tidak pakai helm, tidak menggunakan lampu sein, berkendara melawan arus atau bahkan menerobos lampu merah.

Lantas, apakah Islam mengajarkan kita untuk taat pada aturan selain aturan agama? Terdapat sebuah hadis yang menjelaskan perkara yang mirip. Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ عَلَى المَرْءِ المُسْلِمِ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ، مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ، فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ

“Wajib bagi setiap lelaki muslim untuk mendengar dan taat (kepada atasan), baik ketika dia suka maupun tidak suka. Selama dia tidak memerintahkan untuk bermaksiat. Jika dia memerintahkan untuk bermaksiat, maka tidak ada kewajiban mendengarkan maupun mentaatinya.” (HR. Bukhari 7144, Abu Daud 2626)

Selain hadis Nabi, ada pula ayat yang menjelaskan terkait ketaatan. Dari firman Allah surat An Nisa ayat 59,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri..” (QS. An-Nisa: 59)

Ayat tersebut menyebut ulil amri yang bermakna pemimpin. Bahwa, Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan untuk kita menaati pemimpin. Meskipun mereka buruk dalam memimpin. Dengan catatan, kita tidak mematuhi mereka mana kala mereka memerintahkan untuk bermaksiat.

Lalu, bagaimana dengan peraturan yang telah mereka buat? Apakah ada dalil dalam menaati peraturan?

Aturan Adalah Kesepakatan Bersama, Maka Menaatinya Termasuk Ciri Orang Beriman

Mengutip konsultasisyariah.com, ustaz Ammi Nur Baits menjelaskan dalil mengenai menaati aturan. Bahwa, ia menyebut orang yang tidak taat aturan boleh jadi adalah orang yang tidak paham syariat.

Perhatikan hadis berikut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالْمُسْلِمُونَ عَلَى شُرُوطِهِمْ، إِلَّا شَرْطًا حَرَّمَ حَلَالًا، أَوْ أَحَلَّ حراما

”Setiap muslim harus memenuhi setiap aturan yang mereka sepakati. Kecuali kesepakatan dalam rangka menghalal yang hram atau mengharamkan yang halal.” (HR. Abu Daud 3594, Turmudzi 1352, dan dishahihkan al-Albani).

Pertama, bahwa menaati perintah adalah bentuk menaati ulil amri sebagaimana ayat sebelumnya menjelaskan. Kita tidak perlu merinci dalil tentang mengenakan helm saat berkendara untuk mematuhi aturan tersebut. Karena, hal ini sudah menjadi kewajiban kita dalam mematuhi pemimpin.

Baca Juga : Upaya Bank Indonesia Papua Barat Dalam Mendukung UMKM

Kemudian, selama aturan tersebut tidak ada kaitannya dengan maksiat, maka kita patut melaksanakannya. Justru, bukankah lebih besar kerusakannya jika kita tidak menaati peraturan?

Kedua, menaati peraturan pun dapat bernilai pahala. Jika kita meniatkan menaati peraturan untuk beribadah kepada Allah, maka insyaaAllah ada balasannya. Terlebih, jika aturan tersebut menjauhkan kita dari maksiat.

Dengan demikian, mari kita tunjukkan bahwa umat muslim adalah mereka yang taat pada aturan. Baik itu pemimpin negara, daerah, atau sekadar bos pada sebuah perusahaan. Selama mereka tidak memerintahkan untuk maksiat, maka muslim yang baik patut menaati.