Menaikkan dan Membungkam Suara Lewat ‘Buzzer’
beritapapua.id - Menaikkan dan Membungkam Suara Lewat ‘Buzzer’ - Harapan Rakyat Online

Lain ladang lain ilalang, lain zaman lain metoda. Fenomena buzzer politik sedang menjadi lahan yang cukup menjanjikan, pada kurun dasawarsa ini. Efektivitas dari echo chamber yang diciptakan di dunia maya, menghasilkan output yang lumayan untuk mengangkat sebuah narasi.

Kehadiran buzzer awalnya adalah sebagai strategi marketing produk di platform media sosial, terutama Twitter. Potensi buzzer dalam menciptakan gaung di media sosial ini mulai kemudian dilirik untuk dipergunakan untuk kepentingan politik. Hasil yang didapatkan dari gaung yang diciptakan dengan minim upaya menjadi alasan kenapa metoda strategi politik ini mulai berganti haluan.

Di tahun 2012, Pasangan Jokowi – Ahok pada kontestasi Pilkada DKI, dipercaya pertama kali menggunakan metoda ini. Hal ini diungkap oleh Centre for Innovation Policy Governance (CIPG), pada penelitiannya mengenai buzzer, seperti yang kami lansir dari cnnindonesia.com.

Penggunaan pasukan media sosial pada Pilkada DKI Jakarta tahun 2012 melahirkan ladang baru bagi dunia digital marketing. Gerilya yang dilakukan oleh buzzer ini cukup mengangkat elektabilitas dari pasangan Jokowi – Ahok yang pada saat itu berhasil melibas petahanan Fauzi Bowo.

Sejak saat itu, pesta demokrasi kita sudah tak lagi didominasi oleh kampanye-kampanye fisik maupun televisi melulu. Perang antar buzzer dalam menaikkan narasi dan elektabilitas memenuhi lini massa di segala platform. Tak hanya Twitter, Instagram dan Facebook pun disasar secara maksimal. Terutama pemanfaatan Facebook yang sampai sekarang masih menjadi platform dengan pengguna yang paling banyak di Indonesia.

Baca Juga: Waspadai Peredaran Kosmetik Palsu Di Pasaran

From Hero to Zero

Makna buzzer ini kemudian mengalami peyorasi ketika penggunaannya diletihkan sebagai corong dan sarana kampanye hitam. Hadirnya pasukan media sosial menjadikan makna buzzer menjadi seolah menjijikkan.

Adanya media sosial sebagai medium politik tanpa batasan dan etik jurnalisme menjadikan buzzer bebas melancarkan segala narasi dan propaganda. Tak ayal, sentimen suku, ras dan agama (SARA) menjadi topik yang lezat untuk menjalankan politik identitas yang dinilai sangat berhasil.

Iklim politik Indonesia paska Pilkada DKI 2017 menjadi tidak sehat. Narasi-narasi yang menyinggung SARA masih membekas sampai sekarang. Penggunaan istilah-istilah cebong, kampret, kadrun, ahokers, jokowers masih terdengar hingga kini. Luka demokrasi masih menganga di masyarakat, sementara kesadaran para buzzer untuk mereduksi efek ini tidak ada. 

Perlindungan Paska Penjualan ‘Buzzer’

Meskipun kontestasi politik sudah usai, namun gerilya para buzzer masih dilakukan. Melindungi elektabilitas atau sekedar membela narasi dari yang pernah “dipasarkan”nya melalui media sosial.

Peperangan ini tak pernah usai. Perdebatan ad hominem hingga hoaks, terus menghiasi spektrum politik kita di media sosial. Bahkan pada beberapa kasus, doxing hingga fitnah pun dilancarkan untuk membungkam suara kritik. Atau bisa juga, sebaliknya hal ini menjadi sarana untuk melancarkan fitnah kepada pihak-pihak tertentu.

Sejak beberapa hari yang lalu, Komedian Stand-up, Bintang Emon sedang menjadi pembicaraan yang hangat. Kritiknya terhadap rendahnya tuntutan jaksa pada pelaku penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan dituangkan melalui video yang diberi judul “Ga Sengaja”

Kritikan ini sontak menjadi viral. Masyarakat simpati dan terhibur dengan gaya yang menjadi khasnya Bintang dalam membuat video. Namun ada beberapa yang gerah dengan viralnya Bintang ini. Kritikannya terhadap tuntutan jaksa ini dinilai sebagai materi bahaya yang harus dilawan dengan narasi negatif lainnya.

Video Bintang tersebut kontan dilawan dengan memes dan poster yang memojokkan dirinya dengan nuansa negatif. Hal ini semakin menimbulkan kemuakan terhadap buzzer. Gaya yang ditampilkan dianggap sebagai upaya reseverasi otoritarian.

Menaikkan dan Membungkam Suara Lewat ‘Buzzer’
beritapapua.id – Tangkap layar dari akun @LintangHanita yang sedang menjual narasi negatif tentang Bintang Emon sebagai pemakai narkoba

Hampir seluruh netizen Indonesia memberi dukungan kepada Bintang paska diterbitkannya poster tersebut. Masyarakat semakin hilang kepercayaan terhadap wajah penegakan hukum Indonesia.

Namun di sisi lain, ada juga anggapan yang menyebut upaya pembuatan poster adalah narasi propaganda yang justru dinaikkan oleh pihak oposisi. Tujuan dari poster yang menyebut Bintang sebagai pengguna narkoba adalah untuk melemahkan kepercayaan masyarakat. Terutama terhadap pemerintah dan lembaga Yudikatif kita.

Opini-opini liar terus berkembang, baik dari yang pro maupun yang kontra. Masyarakat dihadapkan dengan jenis hiburan baru: “Debat Kusir Para Buzzer Politik” yang kadang menggelitik.

Hadirnya buzzer bisa menjadi dua sisi mata uang. Nilai yang bisa menggerus, kadang bisa menaikkan. Yang pasti ladang baru dalam dunia digital marketing ini, masih berpotensi untuk dilakoni hingga beberapa tahun ke depan. Berminat menjadi Buzzer?