Menerka Volvariella, Jamur Endemik Papua
beritapapua.id - Menerka Volvariella, Jamur Endemik Papua - steemkr.com

“Volvariella atau jamur sagu adalah salah satu tumbuhan endemik Papua yang sedikit sekali diketahui. Namun di balik itu, ia memiliki prospek yang mendunia.”

Jamur sagu atau Volvariella merupakan jamur endemik Papua yang tumbuh sporadis di ampas sagu. Masyarakat awam mengenal sejumlah nama jamur yang cukup populer seperti jamur tiram, jamur kuping, merang, atau bahkan jamur shiitake. Menyoal jamur sagu, namanya yang tak begitu santer disebut seakan menjadi tabir yang menyelimuti prospek dari jamur ini. Barahima Abbas bersama kolega dalam jurnal penelitiannya pada tahun 2011 mengungkap bahwa belum banyak penelitian soal jamur sagu. Ia bahkan memprediksi jamur sagu merupakan spesies baru dari genus jamur volvariella.

Memiliki bentuk yang mirip dengan jamur merang, jamur sagu dinilai kaya akan manfaat. Berdasarkan sejumlah penelitian, jamur sagu memiliki kandungan berupa asam amino esensial seperti Leusin, Isoleusin, Valin, Tryptophan, Lysin, Theonin, Phenilalanin, Methinin dan

Histidin, Ini artinya jamur endemik Papua ini memiliki manfaat dalam meningkatkan perfoma atletik hingga menurunkan berat badan. Bahkan, tumbuhan mini ini memiliki kandungan yang mampu menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Tak ayal apabila jamur edibel ini menjadi salah satu menu favorit masyarakat Papua di samping keladi dan petatas. Kurang terekspos, jamur ini memiliki potensi besar untuk dibudidayakan.

Baca Juga: Anjuran Wisata di Raja Ampat Terkait Virus Corona

Membingkai Prospek Sagu dan Jamur Sagu

Melihat jumlah lahan sagu yang begitu besar di Papua, maka prospek jamur sagu menjadi begitu menawan. Melalui pembudidayaan yang tepat, jamur sagu dapat berlaga di kancah bisnis internasional. Dalam bingkai kebutuhan jamur edibel dunia, jamur memiliki atmosfer bisnis yang cukup baik. Melansir dari jpnn.com (2018), tingkat konsumsi jamur di Eropa rata-rata sebesar 1,5 kg per kapita setiap tahunnya dan Amerika Serikat sekitar 0,5 kg per kapita per tahun. Bahkan menurut BPS, tingkat konsumsi jamur di Indonesia sebesar 0,18 kg per kapita per tahunnya.

Dedi Suyerman, merupakan salah satu orang yang melihat prospek jamur sagu. Pria asal Pandeglang, Banten merupakan peneliti dan praktisi pertanian organik. Bermula dari produksi tepung sagu, ampas sagu yang kerap menjadi masalah ekologi berhasil disulap menjadi harta karun. Dedi bahkan memanfaatkan ampas sagu sebagai pupuk cair organik dan biogas. Selain menjadi pupuk, ampas sagu tersebut digunakan untuk membudidayakan jamur sagu.

Melansir dari DAAI TV, prospek jamur sagu mendorong Dedi untuk meramu Teknik Revolusi Putih yang mampu mendorong produktivitas jamur sagu. Menurut Dedi, protein jamur sagu dapat dikembangkan hanya dalam waktu 3 hari. Kemudian, dalam 10 hari, jamur sudah dapat dipanen. Dengan kemampuan produksi tersebut, maka Dedi membuka peluang bagi masyarakat untuk turut andil dalam merengkuh prospek usaha tersebut. Perihal prospek, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Ditjen Hotikultura, Prihasto Setyanto, mengatakan bahwa bisnis jamur cukup prospektif.

“Pemerintah berkomitmen mendukung pengembangan sayuran eksotik baik di tingkat on farm maupun off farm untuk meningkatkan produksi jamur di Indonesia. Kami juga permudah proses perizinan ekspornya”, Jelas Prihasto.

Boleh jadi, pemajanan jamur sagu dapat menjadi salah satu sektor bisnis masyarakat Papua yang dapat dikembangkan. Berawal dari sagu, jamur sagu pun dapat mendunia.