Mengejar Wambarek
Beritapapua.id - Mengejar Wambarek, Menangkap Ikan Bersama Leluhur Suku Biak

Mengejar Wambarek, Menangkap Ikan Bersama Leluhur – Leluhur adalah mereka yang mengajarkan dan menurunkan berbagai tradisi di dalam masyarakat. Tak hanya kesenian, apa yang diwariskan dan diajarkan oleh tetua adalah teknik bertahan hidup. Mulai dari cara berburu, bercocok tanam, upacara pernikahan, hingga resolusi konflik. Pada masyarakat Biak, mereka memiliki cara menangkap ikan yang diajarkan oleh Kapisan Marisan Sarawa, nenek moyang mereka.

Safaker Teknik Menangkap Ikan Mengejar Wambarek

Safaker atau kerap dikenal dengan aker merupakan teknik menangkap ikan tradisional yang diturunkan dari generasi ke generasi hingga era modern saat ini. Meski namanya harum oleh Suku Biak, aker merupakan teknik yang pula ditemukan di daerah lain seperti masyarakat Krey, masyarakat Manggarouw, hingga memasuki Pulau Numfor. Sejumlah referensi mengatakan bahwa teknik menangkap ikan aker ini berasal dari Suku Biak yang kemudian tersebar ke daerah lain. Singkat cerita, teknik ini dapat dikatakan berasal dari sana.

Teknik tradisional ini tidak sembarangan. Teknik yang mampu bertahan sekian lama ini memerlukan pertimbangan yang matang sebelum dieksekusi. Secara sederhana, aker merupakan teknik menjebak ikan di bibir pantai. Pembuatan aker, sebagaimana disinggung sebelumnya, memerlukan pengamatan dan pertimbangan yang matang seperti ketersediaan material yang akan digunakan untuk membuat aker seperti batu-batuan dan lokasi yang dekat dengan hutan mangrove.

Pembuatan Aker

Baca juga: Shio, Tradisi dan Kepercayaan Tionghoa Untuk Mengenal Karakter

Pembuatan aker biasanya dilakukan secara bersama-sama. Mereka menyusun batu layaknya sebuah tanggul di lokasi yang sudah ditetapkan sebelumnya. Masyarakat Biak memiliki waktu khusus untuk membuat aker, yakni saat air laut pasang. Hal ini sebabkan batu akan lebih mudah dan ringan diangkat di dalam air yang mana saat itu adalah saat air pasang. Proses ini memakan waktu beberapa minggu. Setelah rampung, pemilik aker harus melakukan ritual yang disebut dengan ritual rar.

Dalam ritual rar, pemilik aker akan melambaikan sebuah ranting kayu bakau keseluruh penjuru laut sembari menyebutkan segala jenis ikan yang diinginkan. Setelah selesai, ranting tersebut dibenamkan ke dalam aker. Aker akan ditengok, atau dimanfaatkan kala air laut surut, atau siang hari. Masyarakat menyebut waktu itu dengan wambarek. Sedangkan mereka menanti hasil tangkapan mereka kala surut, atau malam hari, yang disebut dengan wampasek.

Teknik menangkap ikan aker memperlihatkan kebolehan leluhur kita dalam memanfaatkan sumber daya yang ada. Segala rangkaian kegiatan dalam pembuatan aker menunjukkan pertimbangan yang matang hasil trial and error yang dilakukan oleh orang terdahulu. Teknik ini adalah warisan leluhur, budaya yang membuat Indonesia masyhur.