Mengenal 4 Permukiman Tradisional Masyarakat Papua Barat
beritapapua.id - Mengenal 4 Permukiman Tradisional Masyarakat Papua Barat - Tribunnews

Mengenal 4 Permukiman Tradisional Masyarakat Papua Barat – Papua memiliki kekayaan alam dan budaya yang sudah tidak diragukan lagi. Dilansir dari Sejara Negara, terdapat sekitar 1.200 suku yang tersebar di seluruh Papua. Jika dirinci, terdapat 466 suku di Papua Barat dan 800 di Papua. Angka tersebut menunjukkan keragaman budaya di Indonesia Timur itu.

Tahukah Anda? Dari ribuan suku tersebut, mereka dapat dikelompokkan sesuai dengan tempat tinggalnya. Hal ini disampaikan oleh John RG Djopari, seorang cendekiawan Papua yang terkenal. Dalam karyanya, ia menjelaskan masyarakat tradisional Papua secara sederhana dapat digolongkan ke dalam 4 kategori.

Lebih spesifik lagi, ia menjelaskan terdapat 4 golongan tersebut khususnya di Papua Barat. Lantas, apa sajakah itu?

Baca Juga: Danau Anggi Gida dan Anggi Giji, Pesona Alam Pegunungan Arfak

Masyarakat Berdasarkan Permukiman Tradisional

Pertama, penduduk yang tinggal di pesisir pantai. Menurut John, masyarakat pesisir merupakan yang paling terbuka dengan pihak luar. Mata pencaharian utama masyarakat pesisir adalah nelayan di samping meramu dan berkebun.

Kategori kedua adalah masyarakat di dataran rendah. Mereka adalah masyarakat yang tinggal tidak terlalu dekat dengan pegunungan maupun pesisir. Kegiatan utama mereka adalah bercocok tanam dan berburu. Masyarakat ini cenderung lebih adaptif dengan lingkungan. Mereka harus menyesuaikan kemampuan sesuai dengan kondisi permukiman, misal dekat dengan sungai atau hutan. Menurut John, masyarakat golongan kedua ini memiliki adat yang cukup ketat serta memiliki kecurigaan cukup tinggi terhadap orang luar.

Kategori ketiga adalah masyarakat pegunungan tinggal secara berkelompok di lembah gunung. Masyarakat ini dikenal ramah dan gemar menepati janji meski adat istiadat mereka cukup ketat. Mereka hidup secara berkelompok. Salah satu adat yang terkenal dari golongan ini adalah adat perang sebagai bentuk kompetisi. Mereka juga terkenal dengan adat pesta babi.

Namun di sisi lain, masyarakat golongan ketiga menjunjung tinggi balas dendam. Menurut kepercayaan mereka, aksi tersebut dinilai heroik lantaran mampu menjaga keseimbangan kehidupan sosial.

Kategori keempat adalah masyarakat yang tinggal di lereng gunung. Kategori keempat merupakan masyarakat yang cukup tertutup. Ini digambarkan melalui lokasi permukiman mereka. Lereng dinilai sebagai posisi yang cocok untuk mengawasi keadaan sekitar. Mereka dengan mudah dapat mengetahui keberadaan musuh maupun pendatang.

Oleh karenanya, kecurigaan mereka terhadap orang asing sangat tinggi. Ini menjelaskan mengapa suku dalam kategori ini melestarikan budaya kanibalisme. Dalam masyarakat golongan ini, kerap ditemukan budaya bunuh diri di dalamnya. Biasanya mereka yang melakukan bunuh diri adalah orang-orang yang melanggar adat. Ini dilakukan agar adat dan budaya mereka terjaga kelestariannya.

Itulah masyarakat tradisional Papua Barat menurut John RG Djopari. Bagaimana menurutmu?