Mengenal Masyarakat Adat Indonesia dan Perkembangannya
beritapapua.id - Mengenal Masyarakat Adat Indonesia dan Perkembangannya - Prakosasurya

Mengenal Masyarakat Adat Indonesia dan Perkembangannya – Masyarakat adalah isitilah umum yang digunakan di Indonesia untuk merujuk pada masyarakat asli yang berada di Indonesia. Secara umum masyarakat adat ini merupakan masyarakat yang tinggal dalam suatu wilayah geografis tertentu secara turun temurun dan terikat pada asal usul leluhur. Selain itu masyarakat adat juga memiliki hubungan yang kuat dengan lingkungan hidup. Serta, adanya sistem nilai yang menentukan pranata ekonomi, politik, sosial, dan hukum.

Dalam perjalanannya, masyarakat adat memiliki ciri pokok yaitu kekayaan komunal dan otoritas khusus yang otonom atau semacam kedaulatan atas wilayah adat atau yang lazim disebut juga dengan beschikkingsrecht (hak ulayat). Hak ulayat adalah otoritas masyarakat adat atas sumber kekayaan komunal.

Selain itu, masyarakat adat secara khusus mempunyai susunan dan corak yang terbagi menjadi tiga kelompok. Antara lain geneologis, territorial dan campuran (geneologis-territorial). Akan tetapi susunan masyarakat adat juga ada yang bersifat fungsional.

Masyarakat adat yang bersifat fungsional ini dijelaskan secara khusus oleh Mahkamah Konstitusi dalam Putusan MK No.35/PUU-X/2012. Mahkamah Konstitusi menyebut golongan masyarakat adat yang bersifat fungsional adalah masyarakat adat yang tidak digolongan dalam tiga golongan di atas.

Baca Juga: Festival Mangrove di Indonesia Bagian dari Pelestarian Alam

Perkembangan Masyarakat Adat di Indonesia

Seiring dengan perkembangan zaman, masyarakat adat di Indonesia mulai saling bersatu padu membuat sebuah aliansi yang bernama Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). AMAN merupakan sebuah organisasi kemasyarakatan (ORMAS) yang bersifat indepen. Anggotanya terdiri dari komunitas-komunitas Masyarakat Adat dari berbagai pelosok Nusantara.

Munculnya aliansi AMAN tersebut didasari dengan perjalanan panjang masyarakat adat di Indonesia. Khususnya pada pertengahan tahun 1980-an dimana muncul kesadaran baru dikalangan organisasi non pemerintah (ORNOP) dan para ilmuwan sosial. Yaitu tentang dampak negatif pembangunan yang sangat luas terhadap berbagai kelompok masyarakat di Indonesia.

Dalam hal ini, masyarakat adat adalah salah satu kelompok utama dan terbesar jumlahnya yang paling banyak dirugikan oleh (dan menjadi korban) politik pembangunan selama tiga dasawarsa terakhir. Kerugian teresebut terjadi baik di bidang ekonomi, politk, hukum, maupun di bidang sosial dan budaya lainnya.

Atas dasar tersebut maka pada tahun 1993 di Toraja Sulawesi Selatan disepakati pembentukan sebuah wadah yang diberi nama Jaringan Pembela Hak-hak Masyarakat Adat (JAPHAMA) yang dipelopori oleh para tokoh adat.

Selanjutnya, JAPHAMA membuat sebuah permbaharuan dalam masyarakat adat. Salah satunya adalah menggunakan istilah Indigenous Peoples dalam konteks Indonesia sebagai “Masyarakat Adat”. Hal ini dilakukan untuk melawan istilah yang kurang tepat kepada Masyarakat Adat. Seperti suku terasing, masyarakat perambah hutan, peladang liar, masyarakat primitive, penghambat pembangunan, dan sebagainya yang melanggar hak konstitusional Masyarakat Adat sebagai manusia bermartabat.

Hal ini pun mendapat dorongan dari berbagai aktivis dan ORNOP. Aktivis dan ORNOP terse but datang dari berbagai latar belakang. Seperti lingkungan hidup, anti globalisasi, pembaruan agrarian, pendaming hukum, aktivis kebudyaan dan lain-lain.

Selanjutnya, pada tanggal 17-22 Maret 1999 dilaksanakan Kongres Masyarakat Adat Nusantara (KMAN). Kongres tersebut dihadiri lebih dari 400 pemimpin dan pejuang Masyarakat Adat dari seluruh Nusantara.

Dalam Kongres KMAN tersebut lahirlah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) sebagai wadah resmi perjuangan Masyarakat Adat di Indonesia. Saat ini AMAN beranggotakan 2.366 komunitas adat dengan populasi mencapai sekitar 18 juta orang tersebar di seluruh pelosok Nusantara.