Mumi Papua
Beritapapua.id - Mumi Papua, Budaya Suku Papua Yang Jarang Orang Ketahui

Mendengar kata Mumi Papua dari suku mek, Apa yang ada dipikiran Anda pada saat berada di dekat mayat atau jenazah orang yang tak dikenal? Takut dan ngeri-ngeri sedap pastinya, tapi tidak dengan mayat atau jenazah yang satu ini.

Mayat atau jenazah yang diawetkan itulah yang disebut dengan Mumi. Mumi pada umumnya ada di dalam peti dengan balutan kain perban namun, mumi yang berada di Papua bentuknya masih utuh mayat dan berwarna hitam. Biasanya, merupakan jenazah seseorang yang dinilai berjasa bagi sukunya, baik itu kepala suku, panglima perang atau orang yang sangat dihormati.

Proses Pengerjaan Mumi Papua

Mumi Papua
Budaya Suku Papua Yang Jarang Orang Ketahui

Proses pengerjaan Mumi Papua biasanya dilakukan dengan proses pengasapan dan melalui tahapan-tahapan yang panjang dengan menunjuk anggota suku yang bertugas mengerjakan proses pemumian, menyiapkan kayu bakar, dan menyiapkan honai sebagai tempat pelaksanaan serta menyiapkan babi yang baru lahir sebagai penanda waktu hingga babi tersebut keluar taring yang panjang.

Baca juga: Menjadi Tenaga Ahli Bersama Petrotekno

Menariknya lagi, ada satu proses lain dalam pemumian di Papua. Suku Mek, menaruh jenazah di atas pohon selama satu tahun hingga menjadi mumi secara alami. Cuaca yang dingin di atas pohon menjadikan jenazah terawetkan secara alami. Baru setelah itu, diturunkan dan ditaruh di dalam gua. Setelah selesai semua proses pemumian, dilakukan upacara pelepasan mumi dan diakhiri dengan Upacara Bakar Batu. Kemudian, mumi akan diletakan dalam honai (rumah tradisional Papua) dan atau di dalam gua. Kalau dilihat, mumi-mumi di Papua posisinya duduk. Alasannya dalam konsep prasejarah, penguburan dalam posisi duduk ibarat bayi dalam kandungan.

Mumi Papua dipercaya membawa keberkahan bagi masyarakat setempat, bagaimana tidak? Wisatawan yang yang ingin mengambil gambar atau berfoto langsung dengan mumi harus ngerogoh kocek dalam-dalam, biasanya dikenakan tarif sesuai rombongan. Kalau rombongan ramai dikenakan hingga Rp 2,5 juta, tapi kalau berdua atau sendiri hanya dikenakan tarif Rp 1 juta sampai Rp 1,5 juta. Apakah Anda juga tertarik untuk berfoto dengan Mumi?

Tentu tarif menjadi tak bernilai jika kita melihatnya dari segi karya seni dan budaya. Adat istiadat serta keindahan keragaman budaya Papua tak sebanding dengan nilai mata uang apapun. Bangga bukan menjadi orang Indonesia?