Mengenal Raksasa Lautan, Kapal Pinisi dari Indonesia
beritapapua.id - Mengenal Raksasa Lautan, Kapal Pinisi dari Indonesia - Sahabat Lokal

Mengenal Raksasa Lautan, Kapal Pinisi dari Indonesia – Indonesia dikenal sebagai negara maritim. Selain sebagai negara agraris, yang tanah pertaniannya sangat subur dan memiliki kekayaan yang melimpah di darat, kondisi serupapun ada di perairan Indonesia. Bahkan, jauh sebelum Indonesia ada, dan perairan kita dikenal sebagai nusantara, Sriwijaya terkenal dengan armada laut yang kuat dan tangguh.

Berdasarkan hal itu, Indonesia memiliki salah satu warisan kapal yang sangat luar biasa, yaitu kapal phinisi. Kapal Pinisi adalah kapal buatan suku Bugis dan suku Makassar, juga menjadi salah satu kebanggaan bangsa Indonesia. Sentra penbuatan kapal ini lebih banyak berada di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan dengan beberapa rentetan ritual sepanjang pembuatan dan peluncurannya.

Pinisi mengacu pada jenis sistem layar (rig), tiang-tiang, layar dan konfigurasi tali dari suatu jenis kapal layar Indonesia. Ia terutama dibangun oleh suku Konjo, sebuah kelompok sub-etnis Bugis-Makassar yang sebagian besar penduduk di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, tetapi masih digunakan secara luas oleh orang Bugis dan Makassar, sebagian besar untuk transportasi antar-pulau, kargo dan tujuan memancing di kepulauan Indonesia.

Baca Juga: Pamer Perut Sixpack, Jerry Yan Bikin Penggemar Histeris

Asal Nama Kapal “Pinisi”

Menurut sebuah tradisi setempat, nama pinisi diberikan oleh seorang raja Tallo, I Manyingarang Dg Makkilo, kepada perahunya. Namanya berasal dari dua kata, yaitu “picuru” (artinya “contoh yang baik”), dan “binisi” (sejenis ikan kecil, lincah dan tangguh di permukaan air dan tidak terpengaruh oleh arus dan ombak).

UNESCO menetapkan seni pembuatan kapal Pinisi sebagai Karya Agung Warisan Manusia yang Lisan dan Takbenda pada Sesi ke-12 Komite Warisan Budaya Unik pada tanggal 7 Desember 2017.

Basri adalah salah seorang pembuat perahu Pinisi di Tana Beru, Kecamatan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawasi Selatan. Tana Beru ini sendiri dikenal sebagai salah satu pusat pembuatan perahu Pinisi, perahu khas Bugis–Makassar yang ketenarannya hingga ke mancanegara.

Menurut Basri, pembuatan kapal bisa memakan waktu berbulan-bulan atau malah tahunan. Selain karena faktor ukuran juga ketersediaan anggaran dan bahan baku. Sistem pembayaran pembuatan sebuah perahu sendiri bisa secara tunai, namun seringnya dengan pembayaran tiga kali. Tergantung pada kesepakatan.