Mengenal Teori Herd Immunity dalam Pengentasan Covid-19
beritapapua.id - Mengenal Teori Herd Immunity dalam Pengentasan Covid-19 - CNN Indonesia

Kali ini, Indonesia ramai dengan pemaparan perihal teori Herd Immunity. Hal ini dinilai sejalan dengan keputusan pemerintah yang mengizinkan warga berusia 45 tahun ke bawah untuk dapat kembali beraktivitas normal di tengah wabah corona yang belum tuntas.

Keputusan tersebut diambil dalam rangka mencegah permasalahan semakin melebar, yakni kehilangan mata pencaharian. Lantas, apa itu herd immunity?

Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Dr. Sally A Nasution, SpPd, K-KV, FINASIM, FACP, memaparkan apa itu herd immunity. Menurut beliau, teori yang mulai ramai itu merupakan sebuah upaya penghentian laju penyebaran virus yang mewabah dengan mengandalkan kemampuan adaptasi manusia.

Dengan kata lain, manusia dibiarkan bergumul dengan virus hingga imunitas mereka kebal terhadapnya. Dengan demikian, virus akan mereda dan hilang dengan sendirinya.

“Pada kondisi terinfeksi virus, tubuh kita otomatis membentuk antibodi. Siapa yang akan membentuk antibodi? Yaitu orang-orang yang imunitasnya baik, pada usia produktif sekitar 18-50 tahun,” tutur Sally dilansir dari Kompas.com (12/05) 2020.

Dosen Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Dr Panji Hadisoemarto MPH, sangsi akan keputusan pemerintah tersebut. Ia mengatakan bahwa herd immunity belum memiliki bukti klinis akan berhasil. Terlebih, dalam kasus covid-19, masih ada kasus orang yang kembali terjangkit setelah terinfeksi.

“Pengetahuan kita tentang respon kekebalan tubuh terhadap Covid-19 belum lengkap,” imbuhnya.

Baca Juga: Lalu Lintas Di Jakarta Padat Meski Masa PSBB

Dunia Memperingatkan Bahaya Herd Immunity

Pakar epidemiologi Universitas Indonesia, Syahrizal Syarif, mengatakan bahwa herd immunity merupakan upaya yang tidak relevan jika dihubungkan dengan covid-19. Ia merujuk kepada ketidakhadiran vaksin covid-19 yang belum siginfikan.

“Karena belum ada vaksin yang dapat diberikan pada 80 persen penduduk dunia,” kata Syahrizal dalam keterangan tertulisnya.

Syahrizal menjelaskan bahwa covid-19 tidak seperti virus measles atau campak yang mampu memberikan kekebalan alamiah pasca seseorang terinfeksi. Ini jelas membahayakan populasi. Jika mereka dibiarkan terinfeksi tanpa ada upaya pencegahan dan penanggulangan, maka korban akan berjatuhan setelah diterpa gelombang wabah berkali-kali.

Menurutnya, vaksin sangat dibutuhkan untuk menangani covid-19 ini. Hal ini mengacu kepada teori herd immunity itu sendiri. Dalam teori tersebut, terdapat 80 persen populasi yang kebal terhadap virus, sehingga dapat melindungi populasi lainnya yang rentan. Dengan demikian, herd immunity akan berhasil manakala 80 persen dari populasi sudah dinyatakan kebal, dalam hal ini telah menggunakan vaksin anti covid-19.

World Health Organization (WHO) memperingatkan bahwa penerapan teori tersebut oleh sebuah negara sangatlah berbahaya. Ia mengatakan bahwa teori tersebut sangat sulit dicapai dalam kondisi wabah covid-19 saat ini. Hingga kini belum ada bukti klinis seseorang kebal dengan virus corona meski sudah sembuh. Hal ini yang menyebabkan teori tersebut tidak relevan.

“Anda pikir saja, berapa banyak imunitas yang dibutuhkan oleh populasi tersebut untuk saling melindungi,” papar Dr Van Kerkhove dalam jumpa pers.

Belum ada kepastian apakah benar Indonesia menerapkan herd immunity, oleh karenanya warga diimbau agar tetap tenang.