Menimang Babi di Pelukan Masyarakat Papua
beritapapua.id - Menimang Babi di Pelukan Masyarakat Papua - https://www.jurnalismemsi.id/

Di Papua, harga seekor babi bisa mencapai 50 juta.

Babi memiliki tempat sentral bagi masyarakat Papua. Hewan berkaki empat ini memiliki berbagai macam fungsi, salah satunya adalah menunjukkan status sosial seseorang dari jumlah kepemilikan babinya. Bahkan, babi kerap disayang, dianggap layaknya anak sendiri. Ini mematahkan berbagai stigma buruk babi di luar sana, yang tak lebih hanya sekadar pengganjal perut lapar.

Meski banyak dijumpai dan banyak diternak, babi merupakan hewan yang sangat disayang di kalangan masyarakat Papua. Jan van Eeckhound dalam bukunya “Vergeten Aarde” menuliskan bahwa ternak babi merupakan pekerjaan penting. Tak jarang mama menyusui sendiri anak-anak babi. Jan van Eeckhound bahkan mengatakan perselisihan antar suku karena masalah babi pula banyak terjadi.

Baca Juga: Memekik, Mengerang, Memuja Perang Dari Suku Dani

Mengapa babi begitu disayang dan dihormati?

Babi merupakan hewan endemik Papua. Bukan tanpa alasan. Ekosistem bumi Papua membuat tak banyak mamalia yang dapat hidup di sana. Mengacu pada teori garis Weber-Wallace, maka fauna yang ada di Tanah Papua berasal dari benua Australia. Kebanyakan hewan yang berasal dari benua Australia ada jenis burung-burungan dan hewan berukuran kecil seperti kus-kus dan kangguru pohon. Ini pula yang menyebabkan tak banyak mamalia yang dapat dijumpai di sana selain babi dan kijang.

Disayang, babi memiliki banyak sekali manfaat. Hal ini memengaruhi perilaku masyarakat terhadap babi itu sendiri. Masyarakat Papua tidak memotong babi untuk sekadar menikmati dagingnya. Mereka memakan daging babi hanya pada acara atau momen tertentu saja. Mereka memakan sagu dan ubi untuk makanan sehari-hari. Babi yang berjumlah banyak, diternak, dikumpulkan dalam satu tempat yang dipagari khusus, atau bahkan satu lembah khusus hanya untuk babi. Babi pula dapat dijadikan alat tukar, jasa, prestasi, bahkan mahar pernikahan.

Apa yang terjadi pada babi pun dapat memicu permasalahan. Selain perang, salah satu contohnya adalah stigma buruk pada Ap molah yang berulah. Pada tahun 50-an saat Belanda, Ap moleh, melakukan mendatangi Tanah Papua, tepatnya di kawasan Danau Panial, mereka mencoba mengembangkan kualitas hidup masyarakat dengan mengawinsilangkan babi Belanda agar babi asli papua memiliki daging yang banyak dan gemuk. Alih-alih mendapatkan keturunan babi yang baik, babi impor justru membawa virus dan menyebabkan banyak babi yang mati. Ini jelas menyebabkan malapetaka bagi mereka. Karenanya, orang kulit putih dianggap sebagai pemasok roh jahat.