Menimbun Masker dan Makanan, Ada Larangannya
beritapapua.id - Menimbun Masker dan Makanan, Ada Larangannya - Rindi Nuris Velarosdela

Menimbun Masker dan Makanan, Ada Larangannya – Beredarnya kasus virus Corona atau Covid-19 pertama kali di Indonesia tepatnya Depok, membuat kepanikkan dibeberapa wilayah yang berdekatan dengan Depok. Setelah 2 orang dikatakan positif virus Corona.

2 orang tersebut adalah seorang ibu berusia 64 tahun dan anak nya berusia 31 tahun. Kejadian bermula saat anaknya mengalami kontak dengan orang Jepang yang dinyatakan positif Corona saat datang ke sebuah Klub Amigos.

Akibat dari kabar tersebut banyak orang yang panik, dan sesegera mungkin membeli stok makanan serta masker secara berlebihan. Masker-masker yang awalnya terjangkau kini meroket tinggi. Seorang pedagang masker di Pasar Pramuka menyebut stok masker tiga layer mulai menipis sejak pemberitaan mengenai Corona. Salah satu toko sempat menyebabkan antrean panjang di Pasar Pramuka. Tidak hanya Masker yang diburu persediaannya, tetapi sanitizer juga banyak diburu di pasar-pasar. Banyak juga yang mulai menimbun stok makanan dari supermarket.

Baca Juga: Menelusur Sejarah Peradaban Papua di Pulau Mansinam

Aturan Mengenai Penimbunan Barang secara berlebih

Perlu diketahui memborong barang-barang secara berlebih akan menyebabkan terjadinya penimbunan. Dalam keadaan darurat penimbunan merupakan tindakan yang dilarang. Penimbunan disinggung pada Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdangangan tepatnya pada Pasal 29 Ayat (1) yang berbunyi:

“(1) Pelaku Usaha dilarang menyimpan barang kebutuhan pokok dan atau barang penting dalam jumlah dan waktu tertentu pada saat terjadi kelangkaan barang, gejolak harga, dan/atau hambatan lalu lintas Perdagangan Barang.”

Bagi mereka pelaku usaha yang melakukan penimbunan maka akan dikenakan sanksi sesuai pada Pasal 107 yang berbunyi:

“Pelaku Usaha yang menyimpan barang kebutuhan pokok dan/atau barang penting dalam jumlah dan waktu tertentu pada saat terjadi kelangkaan barang, gejolak harga, dan/atau hambatan lalu lintas Perdagangan Barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan/atau pidana denda paling banyak RP50.000.000.000,00- (lima puluh miliar rupiah).”

Selain itu bagi mereka yang menimbun pangan diatur pada Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 pada Pasal 53 yang berunyi:

“Pelaku Usaha Pangan dilarang menimbun atau menyimpan Pangan Pokok melebihi jumlah maksimal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52.”

Dan bagi yang melanggar maka akan diberikan sanksi sebagaimana diatur dalam Pasal 133 yang berbunyi:

“Pelaku Usaha Pangan yang dengan sengaja menimbun atau menyimpan melebihi jumlah maksimal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 dengan maksud untuk memperoleh keuntungan yang mengakibatkan harga Pangan Pokok menjadi mahal atau melambung tinggi dipidana dengan pidana paling lama 7 tahun atau denda paling banyak Rp100.000.000.000,00 (seratus miliar rupiah).”

Sebagaimana kepanikkan yang terjadi dikalangan masyarakat ada baiknya agar kita tetap bersikap tenang dan membeli bahan-bahan sandang, maupun pangan berdasarkan kebutuhan kita masing-masing dan tidak perlu untuk melakukan penimbunan karena akan berdampak kepada kelangkaan barang dan kenaikkan harga yang tinggi. Bagi para pelaku usaha juga seharusnya bijak dan taat kepada Undang-Undang yang berlaku demi menjaga kesetabilan pasar serta persaingan sehat.