Menkes Targetkan 78% Belanja Dalam Negeri untuk Pengadaan Barang dan Jasa Kesehatan
beritapapua.id - Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin. (Dok. Humat Setkab)

Menteri Kesehatan (Menkes) Republik Indonesia (RI) Budi Gunadi Sadikin menargetkan belanja pengadaan barang dan jasa dari dalam negeri khusus di bidang kesehatan sebesar 78 persen. Hal tersebut disampaikan langsung oleh menkes Budi dalam acara pembukaan Pameran dan Temu Bisnis Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah di gedung Smescho Jakarta, Senin.

Angka persetase tersebut ditargetkan menkes melebihi dari target yang telah diusulkan oleh Presiden Joko Widodo kepadanya. Menkes juga mengatakan bahwa jumlah belanja Kementerian Kesehatan adalah Rp35.3 triliun setahun. Pihak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) juga telah mengarahkan sebesar Rp11,7 triliun atau 40 persen di antaranya untuk pembelian pengadaan barang dan jasa dari dalam negeri sesuai dengan usulan Presiden.

Menkes lebih optimis untuk menetapkan target pembelian pengadaan barang dan jasa dari dalam negeri sebesar 78 persen atau 38 persen lebih besar dari apa yang sudah [diusulkan] oleh Presiden Jokowi.

Baca Juga: Menkes RI Akan Tambah Vaksin Kanker Menjadi Vaksin Wajib

Menkes Budi Gunadi mengatakan “Presiden memberi target 40 persen, tapi kami minta kalau bisa [ditingkatkan] dari Rp11 triliun menjadi Rp28 triliun. Jadi bukan 40 persen tapi 78 persen kita inginkan itu pembeliannya bisa di dalam negeri”.

Upaya Menteri Kesehatan Memenuhi Persentase Pengadaan Barang dan Jasa Kesehatan dalam Negeri

Menkes melakukan beberapa upaya untuk mencapai target tersebut, yaitu dengan membuat transparansi. Dia menjelaskan bahwa semua pembelian pengadaan barang dan jasa Rp35 triliun sebesar Rp28 triliun, yang mana di antaranya sudah masuk ke sistem pengadaan pemerintah.

Selanjutnya adalah dengan membuat e-catalogue sectoral. Sejauh ini sudah ada 55.000 alat kesehatan dan obat dalam e-catalogue sectoral tersebut.

“Kita pisahkan alat kesehatan dan obat produksi dalam negeri dan bukan produksi dalam negeri. Kalau ada produksi impor kita tutup supaya kita belinya dalam negeri,” tutur Menkes.

Upaya yang ketiga adalah monitoring yang [dilakukan] langsung olehnya.

“Ini (monitoring) saya sendiri akan turun, saya akan lihat benar gak [dibelanjakan], yang Rp28 triliun itu [dibelanjakan] untuk produk dalam negeri,” ungkapnya.

Melansir dari sehatnegeriku.kemenkes.go.id, memang belum semua produk kesehatan terproduksi dalam negeri, namun tidak sedikit pula produk kesehatan yang sudah terproduksi di dalam negeri.

Mesin CT Scan di rumah sakit misalnya, alat tersebut belum bisa dibuat di Indonesia, namun sebagian besar yang sering [dipakai] seperti jarum suntik, infus dan infus set, dan tempat tidur rumah sakit sudah banyak ]diproduksi] di Indonesia.

“Saya juga tadi lihat oxigen generator untuk pembangkit oksigen di rumah sakit, itu sudah ada yang [dibikin] di Indonesia, alat rontgen sudah bisa dibikin di Indonesia. Saya rasa nanti secara bertahap mudah-mudahan lebih banyak lagi alat-alat kesehatan yang bisa terproduksi di dalam negeri,” kata Menkes.

Lebih lanjut Menkes menjelaskan butuh kerja sama untuk meperbanyak produk kesehatan hasil dari dalam negeri. Kerja sama paling praktis dan paling cepat menurutnya adalah melakukan kongsi dengan pemilik teknologi.

“Jadi banyak sekarang pengusaha-pengusaha itu sebagai importir. Kita panggil, kita tidak akan mematikan bisnisnya, tapi bikin pabriknya di sini. Karena kalau mereka datang bikin pabrik di sini tenaga kerja akan terbentuk dan bisa kongsi dengan mereka karena sudah percaya. Itu cara yang paling cepat daripada develop yang baru,” tutur Menkes.