Minyak Dunia Kembali Alami Kenaikan Hingga 8 Persen
beritapapua.id - Ilustrasi perkembangan harga minyak dunia. (Foto: Shutterstock)

Setelah lebih dari tujuh hari mengalami kemerosotan, harga minyak dunia kini kembali menanjak hingga 8 persen pada hari Kamis, 17 Maret 2022 kemarin. Nilai tertinggi sebelum jatuh ke harga kisaran US$ 100 per barel dari minyak mentah jenis Brent mencapai US$139 per barel.

Harga minyak dunia memang masih belum bisa stabil, mengingat konflik antara Rusia dan Ukraina, yang merupakan salah satu yang menjadi penyebabnya masih terus berlanjut.

Harga minyak mentah jenis Brent meningkat menjadi US$109,1 per barel pada pukul 14.50 WIB, tanggal 18 Maret 2022. Padahal sebelumnya minyak jenis Brent ini sempat mengalami penurunan hingga sekitar US$98 per barelnya. Sementara di waktu yang sama, untuk minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) meningkat menjadi US$104.3 per barel.

Baca Juga: Walkot Jayapura Minta PKK Sinkronkan Program Sesuai Dengan Program Pemda

Morgan Stanley, bank asal Amerika, menaikkan perkiraan harga Brent sebesar US$20/barel untuk kuartal ketiga 2022 menjadi US$120/barel, memprediksi penurunan produksi Rusia sekitar 1 juta barel per hari mulai April. Penurunan produksi minyak Rusia tersebut akan lebih besar daripada penurunan permintaan global sekitar 600.000 barel per hari.

Penyebab Harga Minyak Dunia Kembali Melonjak

Melansir dari CNBC Indonesia, lonjakan harga minyak dunia kali ini diduga karena adanya pernyataan dari Badan Energi Internasional (IEA) yang menyebut bahwa sebanyak 3 juta barel minyak dan produk minyak atau Bahan Bakar Minyak (BBM) Rusia bisa menghilang di pasar pada bulan depan dan meskipun Bank Sentral AS The Federal Reserve (The Fed) memutuskan untuk menaikkan tingkat suku bunga.

IEA juga menambahkan bahwa kerugiannya jauh lebih besar dari perkiraan penurunan permintaan sebesar 1 juta barel per hari dari harga bahan bakar yang lebih tinggi.

John Kilduff, mitra di Again Capital LLC mengatakan bahwa “Ada kekhawatiran baru di pasar bahwa kita bisa kehilangan lebih banyak minyak Rusia”.

Penyebab kenaikan harga minyak ini juga dari pembelian besar-besaran ketika harga minyak dunia sempat turun.