Minyak Dunia Kembali Naik, Apa Penyebabnya?
beritapapua.id - Ilustrasi industri minyak bumi. (Foto: EPA)

Minyak dunia kini kembali menanjak tinggi. Padahal di bulan April ini, harga minyak dunia sempat turun dan terendahnya menyentuh angka US$102.83 per barel.

Mengutip CNBC, Selasa (5/4/2022) minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, [ditutup] melesat US$3,14, atau 3 persen menjadi US$107,53 per barel. Sementara, patokan Amerika Serikat, minyak mentah West Texas Intermediate, melambung US$4,01, atau 4 persen menjadi menetap di posisi US$103,28 per barel.

Melansir dari website Oil Price, kini harga minyak dunia kembali naik. Pada Selasa, 5 April 2022, pukul 14.49 WIB, harga minyak mentah jenis Brent naik sebanyak 0.78 persen jika [dibandingkan] dengan hari sebelumnya. Minyak mentah jenis Brent kini berada di angka US$108.4 per barel. Sedangkan di waktu yang sama, minyak mentah jenis WTI naik hingga 0.77 persen, menjadi US$104.1 per barelnya.

Penyebab Kenaikan Minyak Dunia

Kenaikan harga minyak dunia ini [didorong] oleh langkah negara-negara Eropa yang akan menjatuhkan lebih banyak sanksi kepada Rusia, terutama di sektor energinya. Hal tersebut sebagai respons karena peningkatan jumlah kematian warga sipil di Ukraina.

Kanselir Jerman Olaf Scholz mengatakan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin dan para pendukungnya akan “merasakan konsekuensi” dalam beberapa hari mendatang. Konsekuensi tersebut merupakan akibat dari peristiwa di Bucha, di luar ibu kota Kyiv, di mana kuburan massal dan mayat terikat yang [ditembak] dari jarak dekat ditemukan. Sekutu Barat akan menyetujui sanksi lebih lanjut terhadap Moskow dalam beberapa hari mendatang, katanya.

Baca Juga: Sejak Covid-19, Seberapa Efektif Pembelajaran Berbasis Daring?

Presiden Prancis Emmanuel Macron mendorong sanksi terhadap minyak dan batu bara, menambahkan ada “petunjuk yang sangat jelas yang memperlihatkan kejahatan perang” oleh pasukan Rusia.

Invasi yang [dilakukan] Rusia ke Ukraina yang berlangsung sejak 24 Februari 2022 lalu, telah meningkatkan kekhawatiran pasokan yang telah membuat harga minyak trennya terus meningkat. Sanksi dan penghindaran pembeli terhadap minyak Rusia juga telah mengurangi produksi dan menimbulkan kekhawatiran pasokan yang lebih ketat.

Andrew Lipow, Presiden Lipow Oil Associates di Houston mengatakan “Ketika Amerika Serikat dan Uni Eropa mengurangi pembelian minyak Rusia, itu membuat hanya tinggal China dan India sebagai pelanggan utama, dan mungkin banyak kilang di negara-negara itu juga yang enggan membeli minyak Rusiaā€¯.