Misionaris Jerman Awal Kota Peradaban di Papua
beritapapua.id - Misionaris Jerman Awal Kota Peradaban di Papua - jubi.co.id

“Masih soal Manokwari. Menukil sejarah soal peradaban Kota Manokwari.”

Tanggal 5 Februari merupakan hari libur bagi masyarakat Papua. Hari libur ini merupakan penghormatan Pemerintah Daerah Papua terhadap dua misionaris asal Jerman, yakni Carl William Ottow dan Johan Geissler yang membawa Injil pertama kali ke Tanah Papua, tepat pada tanggal 5 Februari tahun 1855. Penetapan hari libur tersebut disahkan pada tahun 2000, sebagai hari untuk memperingati masuknya Injil pertama kali ke Papua. Sebelumnya, pada tanggal 1997, Gereja Kristen Injili di Tanah Papua menyerukan slogan Manokwari Kota Injil.

Dahulu, dua misionaris asal Jerman, Carl Wilhelm Ottouw dan Johann Gottlob Geissler, mendarat di pulau Marsinam. Pulau tersebut merupakan pulau kecil di Teluk Doreh yang dapat ditempuh sekitar 20 menit dari Kwawi menggunakan kapal. Salah satu sebab mengapa kota ini dikatakan sebagai Kota Peradaban adalah pekabaran Injil terhadap masyarakat Marsinem yang mengajarkan bagaimana cara hidup modern. Pekabaran tersebut kemudian meluas hingga Kota Manokwari.

Baca Juga: Kapal Perintis Pengangkut Hasil Bumi di Dermaga Lobo

Peninggalan Pekabaran Injil oleh Dua Misionaris Asal Jerman

Saat ini, peninggalan pekabaran Injil yang dilakukan dua misionaris asal Jerman tersebut dapat dilihat di Tanah Papua. Di Pulau Marsinam, terdapat sebuah salib tugu sebagai bentuk peringatan terhadap masuknya Injill di Tanah Papua. Selain itu, terdapat gereja yang dibangun oleh Ottouw-Geissler pada tanggal 26 Oktober 1956. Gereja yang disebut dengan Gereja Kristen Injili Tanah Papua itu kini tinggal pondasi saja. Namun, sumur air yang pula dibangun oleh mereka masih dimanfaatkan oleh masyarakat setempat.

Isu intoleransi mencuat kala perda Injil hendak disahkan. Melansir dari BBC, Setara Institute mengatakan bahwa regulasi berbasis agama berpotensi mendiskriminasi agama lain. Hal ini juga berlaku pada wilayah Aceh yang juga menerapkan regulasi demikian. Namun, Ketua Persekutuan Gereja-gereja Papua Barat, Shirley Parinussa, mengatakan bahwa perda ini adalah bentuk pengukuhan pada sejarah masuknya Injil di Manokwari. Adapun regulasi yang dimaksud adalah melarang seluruh umat beragama di hari minggu untuk tidak beraktivitas saat ibadah minggu dilangsungkan oleh umat kristiani.

Namun, intoleransi hanyalah isu belaka. Realita yang terjadi masih menggambarkan harmoni antar masyarakat di sana. Justru, keberhasilan dalam menjaga harmoni menggambarkan sebaliknya. Harmoni yang ada menjadikan kota itu tepat seperti julukannya, yakni Kota Peradaban Orang Papua. Harmoni, dan toleransi.