Misool, Surga Terumbu Karang
beritapapua.id - Misool, Surga Terumbu Karang - businesslounge

“Misool merupakan salah satu habitat karang laut yang masih murni yang tersisa di dunia. Satu-satunya habitat di mana keankearagaman hayati berkembang, bukan terdegradarsi.”

– Dr. Mark Erdmann, biologis dan ekologis terumbu karang

Dunia menjadi saksi ketamakan manusia dalam menggarap alam. Terumbu karang kerap  menjadi korban kolateral yang membuat wajah laut muram. Perginya alga zooxanthellae membuat spesies biota laut itu tak lagi beragam. Terumbu karang kian pucat diracuni oleh zat polutan. Selama 2014 hingga 2017, dunia menghadapi pemutihan terumbu karang yang mencapai 70 persen. Masih adakah habitat terumbu karang yang belum terjamah?

Melihat kondisi kesehatan laut yang kian memburuk, nampaknya menemukan habitat terumbu karang yang asri sama sulitnya seperti Perjalanan ke Barat dalam Mencari Kitab Suci. Sulit memang relatif, namun keberadaan surga terumbu karang di dunia nyatanya masih ada. Surga terumbu karang itu terletak di Pulau Misool, Raja Ampat, Papua Barat. Ia menjadi habitat terumbu karang terakhir yang masih murni. Bahkan, Doktor Erdmann, biologis dan ekologis terumbu karang dalam Konservasi Laut Asia-Pasific, mengatakan bahwa terumbu karang di Misool berhasil beradaptasi menghadapi situasi saat ini.

Baca Juga: Teluk Cenderawasih, Taman Nasional Perairan Terbesar di Papua

Kekayaan Alam di Raja Ampat

Raja Ampat merupakan rumah bagi 75 persen spesies terumbu karang dunia, dan hampir 1,500 spesies ikan. Bahkan, jumlah spesies keanekaragaman hayati tersebut 6 kali lebih banyak dari apa yang ada di Laut Karibia. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Misool Foundation, terumbu karang yang ada di Raja Ampat memiliki ketahanan yang lebih dalam menghadapi fluktuasi suhu laut. Polip terumbu karang yang ada di Raja Ampat, disebut sebagai sebab regenerasi terumbu karang di Asia Tenggara. Ini sebabnya terumbu karang di Misool, Raja Ampat, merupakan spesies yang penting untuk konservasi laut di dunia.

Tak hanya terumbu karang, namun juga menjadi surga bagi hewan laut. Hewan laut dan terumbu karang memiliki hubungan yang saling menguntungkan. Saat salah satu dari mereka berkurangnya, maka akan berdampak pada lainnya. Salah satunya, pada tahun 1990-an, perburuan hiu di Misool menjadi penyebab rusaknya terumbu karang di sana. Pada tahun 2005, Misool mencetuskan No Take Zone di mana perburuan tak boleh dilangsungkan. Dampaknya, jumlah hiu meningkat drastis.

Hendrik Udam Yance pernah berkata bahwa Papua ialah secuil surga yang jatuh ke bumi. Ungkapan tersebut benar adanya, mengingat Raja Ampat ialah habitat terumbu karang terakhir dunia. Ditambah, spesies terumbu karang yang unik membuat tempat ini menjadi surga bagi kenaekaragaman hayati.