Nasib Petani Apabila Resesi Terjadi
beritapapua.id - Nasib Petani Apabila Resesi Terjadi - Kompas

Nasib Petani Apabila Resesi Terjadi – Data terbaru ekonomi kita yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa jurang resesi sudah didepan mata. Pertumbuhan ekonomi yang negatif adalah bukti nyata bahwa Pemerintah perlu strategi khusus untuk memulihkan ekonomi kita.

Pengamat menilai sebaiknya  pemerintah memaksimalkan bantuan kepada petani sebagai pihak yang paling terdampak pada masa pandemi covid-19. Hal ini disebabkan petani termasuk dalam golongan produsen sekaligus konsumen.

Dian Utami, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan kelompok buruh dan menengah kebawah juga sangat terdampak apalagi mereka yang terkena PHK sudah tidak ada lagi penghasilan.

Namun, menurut Dian, petani lebih terkena dampak dikarenakan untuk menanam itu diperlukan modal yang besar. Bahkan beberapa petani sampai rela berhutang terlebih dahulu. Di tengah pandemi ini, bahkan para petani banyak yang tidak punya uang untuk membayar utang, seperti yang dikutip dari kompas.

Sampai saat ini, pemerintah telah mengumumkan  insentif bagi petani dan nelayan berupa jaring pengaman sosial, subsidi bunga kredit melalui keringanan pembayaran angsuran, pemberian stimulus untuk modal kerja dan melalui kebijakan untuk kelancaran rantai produksi.

Baca Juga: 300 Kepala Daerah Jadi Tersangka Korupsi Sejak Pilkada Langsung

Petani: Sudah Tidak Ada Harapan

Dari Boyolali, Jawa Tengah, seorang petani tomat bernama Triswanto mengaku terpaksa memanen awal karena sudah tidak mampu merawat 4000 tomat miliknya. Dia bahkan mengalami kerugian yang cukup signifikan dari sisi penjualan. Misalnya, tomat hijau yang biasanya dijual Rp5.000 per kilogram terpaksa dijual di kisaran Rp1.000–1.500 per kilogramnya.

Triswanto mengaku terpaksa menurunkan harga karena sudah tidak ada pembelinya. Dengan harga jual tomat saat ini, dia mengaku tidak bisa lagi menutupi biaya produksi penanaman mulai dari pembelian bibit, pupuk hingga biaya tenaga kerja.

Petani lain, Jono, juga mengaku mengalami nasib yang sama. Sebagai petani cabai, dia mengatakan bahwa harga cabai terjun bebas karena adanya pandemi corona. Saat ini harga jual cabai di daerahnya hanya berkisar Rp7.000 per kilogram. Padahal harga normalnya bisa mencapai Rp20.000 per kilogram.