Ndambu Pulau Kimaam yang Solutif
beritapapua.id - Ndambu Pulau Kimaam yang Solutif - mongabay.co.id

Ndambu Pulau Kimaam yang Solutif – Dalam masyarakat post-modernis kebenaran adalah relatif. Apa yang dibilang primitif, justru solutif.

Jika kita menilik masyarakat Arfak, mereka memiliki tarian Tumbutana yang memiliki latar belakang sejarah yang luar biasa. Berdasarkan mitos yang beredar, tarian Tumbutana adalah tarian yang berhasil menyatukan tiga kelompok masyarakat–dalam bahasa lokal disebut dengan keret–yang dahulu terpisah. Awalnya mereka hidup rukun, namun karena sebuah konflik mereka hidup terpisah. Tarian Tumbutana lahir sebagai akhir perseteruan mereka, menjadi saksi perdamaian antara ketiga keret itu.

Legenda tarian Tumbutana menjelaskan sebuah bentuk resolusi konflik. Jika diteliti, sebelum lahirnya tarian itu, mereka mengadakan sebuah pesta unjuk hasil bumi. Sekilas, menunjukkan hasil bumi pada masyarakat lain terkesan sangat kompetitif. Apa iya sebuah kompetisi dapat menjadi resolusi konflik? Dalam ndambu, pertanyaan ini dijawab.

Ndambu merupakan tradisi yang dimulai di Pulau Kimaam, ujung Papua, berbatasan dengan Papua Nugini dan Laut Arafuru. Ndambu diartikan sebagai bersaing sehat. Tradisi ini sudah dilakukan sejak dulu untuk mencairkan perselisihan yang terjadi di dalam masyarakat. Secara sederhana, tradisi turun temurun di Pulau Kimaam ini merupakan ajang menampilkan hasil bumi seperti petatas, umbi, keladi, kombili, pisang, serta sagu. Kata kompetisi hasil bumi ini dapat diartikan dengan kata lain yakni pesta panen.

Tradisi ini mengajarkan untuk berkompetisi secara sehat. Pertikaian yang ada diselesaikan dengan berkompetisi dalam bidang bercocok tanam. Saat persiapan, masyarakat bekerja keras untuk menghasilkan hasil bumi yang unggulan. Ukuran umbi-umbian yang besar menjadi nilai saat kompetisi kelak. Kalah menang tidak menjadi hal utama dalam kompetisi ini, melainkan kerja keras menghasilkan hasil bumi yang unggulan menjadi hadiah bagi masing-masing masyarakat.

Ndambu mengajarkan masyarakatnya untuk tidak malas. Kerja keras dalam menyambut ndambu adalah upaya dalam menghidupi keluarga. Mereka secara tidak langsung berkompetisi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tak ada yang dirugikan dalam kompetisi ini. Seluruh pihak berlomba-lomba meningkatkan kualitas diri dan kualitas hidup masyarakatnya.

Baca Juga: Estuari Teluk Bintuni Bagi Berbagai Jenis Ikan

Lantas, di mana letak resolusi konfliknya?

Kata kunci resolusi konflik terletak pada nama ndambu itu sendiri. Konflik, diartikan sebagai negasi dari ndambu yakni kompetisi tidak sehat. Kompetisi tidak sehat melahirkan konflik berkepanjangan yang berpotensi merugikan pihak yang berseteru. Resolusi konflik yang ditawarkan dari tradisi ndambu adalah pengalihan konflik menjadi kompetisi sehat. Masih dalam ranah kompetisi, namun dalam kompetisi sehat yang membangun.

Sebuah tradisi yang dalam masyarakat post-modern terdengar sangat primitif, namun di sana letak solusi bagi masyarakat yang sungguh teramat kreatif. Solusi tidak melulu hadir dalam bentuk meredam perseteruan. Dalam tradisi ini, perseteruan dialihkan menjadi kompetisi sehat yang memacu masyarakatnya untuk meningkatkan kualitas hidup mereka. Menurut anda, apakah ini adalah resolusi konflik?