Negeri Seribu Bahasa
Beritapapua.id - Negeri Seribu Bahasa di Tanah Papua

Negeri Seribu Bahasa di Tanah Papua – “Apuni Inyamukut Werek Halok Yugunat Tosu,” yang artinya (Berbuat lah sesuatu yang terbaik terhadap sesama) -Peribahasa Lembah Baliem, Wamena.

Dewasa ini, tak sulit menemukan peribahasa itu. Dinukil dari kearifan masyarakat Lembah Baliem, Wamena, kata mutiara itu bertebaran di media sosial. Dari bahasa, etika terbentuk. Dari bahasa pula, persaudaraan dipupuk. Peribahasa itu menjadi saksi negeri 1001 budaya, Papua, hidup dalam harmoni.

Papua, Negeri Seribu Bahasa

Negeri Seribu Bahasa
Beritapapua.id – Tarian Suku Papua

Merupakan salah satu pulau terbesar di dunia, Papua, bagai paradoks dalam peradaban dunia kontemporer. Ragam bahasa dan budaya bercampur baur, masyarakatnya hidup dengan akur. Negeri Samundranta, hingga kini, zaman silih berganti tak membuat warisan leluhur luntur. Dunia seakan dipaksa untuk percaya akan warna-warni Negeri Papua. Bagaimana tidak? Ekologi yang ekstraordinary di tanah Papua melahirkan 600 hingga 800 budaya yang berbeda-beda. Perbedaan budaya, tak jarang pula berbeda bahasa.

Baca juga: Takuu Atoll, Pulau Terpencil Yang Hilang

Setidaknya, mengacu pada penelitian Kay Owen dan Glean Lean, terdapat 1300 bahasa yang digunakan di tanah Papua. Ini bukanlah angka final. Dalam bukunya yang berjudul “History of Number: Evidence from Papua New Guinea and Oceania”, mereka menyebutkan angka tersebut hanya merepresentasikan jumlah bahasa di Papua Nugini atau Papua Timur. Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2017, terdapat setidaknya 384 di Provinsi Papua. Meski memiliki perbedaan yang cukup signifikan, data ini menjelaskan bahwa Papua memiliki ragam bahasa yang begitu banyak.

Jika menelusur induk dari ragam bahasa Tanah Papua, maka teori migrasi menjelaskan keragaman bahasa ini dipengaruhi oleh persebaran manusia purba sekitar 40.000 tahun yang lalu. Bahasa di Indonesia diturunkan oleh dua arus utama bahasa kuno, yakni: keluarga bahasa Austronesia yang masuk ke Nusantara sekitar 4.000 tahun lalu, dan keluarga bahasa Papua, yang duluan menduduki Nusantara sejak sekitar 40.000 tahun lalu. Meski bukan faktor utama, teori ini menjadi acuan dalam mengamati fenomena keragaman bahasa di Tanah Papua.

Klamer dan Ewing Peneliti dari Leiden University

Menurut Klamer dan Ewing, kondisi geografis Tanah Papua mempengaruhi ragam bahasa yang ada. Terpisah selama ribuan tahun oleh hutan, bukit, gunung yang tinggi menyebabkan induk bahasa mengalami perubahan. Kondisi ini pula yang melahirkan perbedaan budaya. Tak hanya itu, keluarga bahasa Austronesia turut andil dalam memproduksi bahasa-bahasa baru. Diketahui bahwa Tanah Papua tidak hanya disinggahi oleh keluarga bahasa Papua. Pertemuan antara dua keluarga bahasa diduga menciptakan bahasa baru.

Bagaimana mereka dapat hidup rukun? Meski beragam, mereka hidup berdampingan. Meski berbeda bahasa, mari kita kembalikan kepada peribahasa di awal. Bahasa boleh berbeda, namun etika leluhur wajib dijaga. Budaya mempengaruhi bahasa, begitu pula sebaliknya. Indah bukan?