Noken Papua
Noken Papua dan Cara Pembuatannya

Noken Papua dan Cara Pembuatannya – Akhir tahun 2020 lalu, tepatnya bulan Desember, noken menjadi doodle atau desain logo google. Seniman yang bertanggung jawab atas Ilustrasi atau desain logo google itu adalah Danu Fitra, seorang seniman asal Indonesia. Ia mengungkapkan bahwa karyanya itu adalah upayanya dalam mengenalkan kebudayaan Indonesia, khususnya Papua dan Papua Barat.

“Saya berharap doodle ini dapat membantu mengenalkan kebudayaan Indonesia yang sudah dikenal oleh UNESCO kepada orang banyak,” ungkap Danu Fitra, mengutip dari situs resmi google.

Seperti Danu Fitra sebutkan, noken menjadi warisan budaya dunia takbenda oleh UNESCO pada tahun 2012. Karya khas masyarakat Papua itu masuk dalam kategori ‘in Need of Urgent Safeguarding’, atau warisan budaya yang membutuhkan perlindungan mendesak.

Baca juga: Noken, Tas Anyaman Khas Papua Dan Sistem Adat

Bagi sebagian orang yang belum tahu, noken adalah rajutan yang terbuat dari serat kayu khas Papua. Masyarakat lokal menggunakan rajutan ini untuk berbagai hal. Umumnya, masyarakat menggunakan noken untuk menjadi tas atau kantung.

Dalam kepercayaan masyarakat Papua dan Papua Barat, noken memiliki filosofi tersendiri. Pertama, keahlian seorang perempuan dalam merajut noken menunjukkan kedewasaannya. Kedua, noken adalah sebuah warisan nenek moyang yang mana mengajarkan banyak hal pada keturunannya.

“Kita harus kembali mendalami ilmu noken ini. Noken mengajarkan kita tentang berbagi, demokrasi, dan kebenaran,” kata Titus Christoforus Pekei, ketua Yayasan Noken Papua dikutip situs Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud).

Cara Membuat Noken Papua: Tak Sembarang Kayu

Baca juga: Bohong Pintu dari Petaka dan Celaka

Sebelumnya, bahan dasar noken adalah serat kayu khas Papua. Lantas, bagaimana sebuah kayu dapat kemudian menjadi rajutan?

Serat kayu yang menjadi bahan dasar noken pun tak sembarang. Masyarakat Distrik Web, Kabupaten Keerom, Papua, misalnya. Mereka menggunakan kulit pohon momo sebagai bahan dasar noken. Mereka mengambil kulit pohon momo tersebut khususnya bagian yang masih basah kemudian dikeringkan di atas tungku api.

Setelah kering, maka muncul serat-serat dari kulit pohon momo itu. Nah, serat itu yang kemudian dapat menjadi bahan rajutan. Mama-mama Papua memintal serat kayu pohon momo itu menjadi sebuah karya yang luar biasa eksotis.

Selain pohon momo, masyarakat Papua juga menggunakan kulit kayu melinjo. Suku Bauzi di Kabupaten Mamberamo Raya, misalnya. Bedanya, kulit kayu dikeringkan dengan cara dipukul menggunakan kayu kemudian diangin-anginkan.

Lantas, apa langkah selanjutnya setelah mengeringkan kulit kayu? Setelah mendapatkan serat kayu, maka bahan tersebut dipintal hingga menjadi tali atau benang yang kuat. Tak sedikit masyarakat yang mewarnai serat tersebut dengan pewarna alami.

Menganyam atau memintal, adalah proses berikutnya setelah mendapatkan benang dari serat kayu. Cara menganyamnya pun beragam. Daerah Paniai, Papua Barat, menganyamnya dengan pola cincin.

Proses menganyam ini memerlukan keterampilan yang luar biasa. Tak ayal, masyarakat timur Indonesia ini betul-betul menghargai noken.

Bagaimana? Tertarik untuk mencoba?