Noken
Berita Papua - Noken, Tas Anyaman Khas Papua Dan Sistem Adat

Nama Noken mungkin sudah tak asing lagi di telinga kita. Tas anyaman khas Papua yang dibuat dari akar pepohonan ini memang serbaguna serta lazim dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari. Coraknya pun unik, yang dalam selayang pandang langsung dapat dicirikan sebagai sebuah kekhasan dari tradisi dan budaya Papua.

Noken merupakan tas khas yang terbuat dari kulit kayu. Uniknya, dari beragam etnis yang ada di Papua, semua suku memiliki kerajinan noken yang sama. Tas yang di buat dari kulit kayu yang dikeringkan dan dipilin serta dianyam ini, selain dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari, juga dipergunakan dalam upacara-upacara adat.

Keseharian ibu-ibu atau mama-mama papua yang menggantung noken di kepala dalam kesehariannya merupakan sebuah keunikan yang lazim bisa kita lihat di Papua.

Tidak hanya dipergunakan untuk membawa kayu bakar, barang-barang hasil pertanian atau belanjaan, kini penggunaan tas ini juga mulai lazim terlihat di kampus-kampus, terutama oleh mahasiswa-mahasiswi Papua. Unik, dan serbaguna, tidak juga ketinggalan zaman.

Sistem Noken Adat Papua

Di sistem adat Papua sendiri, noken tidak hanya dipergunakan sebagai alat atau sarana untuk membawa barang. Tapi dalam tradisi pemilihan kepala daerah, ada juga di kampung-kampung adat yang masih menggunakan sistem ini sebagai pemilihan kepala daerah.

Caranya? Di setiap bilik Tempat Pemungutan Suara (TPS) disediakan noken yang digantung sesuai jumlah kandidat kepala daerah yang sedang berkontestasi. Alih-alih menusuk atau melakukan coretan pada kertas suara, para pemilih berdiri dalam barisan di depan noken pilihan mereka. Dari barisan tersebut, maka Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) akan melakukan penghitungan serta langsung membuat berita acara dan sertifikasi hasil perhitungan suara yang ditanda-tangani oleh KPPS dan partai politik peserta.

Sistem ini sudah menjadi bagian dalam kehidupan demokrasi, yang diadaptasi dari sebuah kearifan lokal, serta diakui dan disahkan oleh Mahkamah Konstitusi sebagai sebuah sisten yang menganut Langsung, Umum, Bebas dan Terbuka. Inilah khazanah dalam kehidupan kita yang bercorak. Keberagaman budaya serta kearifan-kearifan, menambah nilai dan esensi dalam kebinekaan kita.