Papua dan Sagu di Nusantara
beritapapua.id - Papua dan Sagu di Nusantara - nebulasolution.net

Papua dan Sagu di Nusantara – “Banyak orang beranggapan bahwa sagu berasal dari Papua. Tak hanya itu, tak sedikit pula yang beranggapan bahwa sagu adalah makanan asli orang Papua.”

Memang benar, hingga saat ini masyarakat Papua dan Maluku masih mengkonsumsi sagu. Di Papua sendiri, sagu disebut sebagai ibu. Mengapa demikian? Sagu adalah makanan pertama untuk bayi, hingga ia tumbuh besar dan tua. Selain itu, upacara pernikahan orang Papua Barat pula menggunakan sagu. Bahkan, batang sagu tersebut masih dapat dimanfaatkan sebagai tempat tinggal apatar, sebutan warga Sorong untuk larva kumbang Rhynchophorus Papuanus.

Menukil Arif Ahmad dalam karyanya Sagu Papua untuk Dunia, pada dasarnya sagu tersebar luas di Nusantara. Tanaman sagu juga ditemukan di beberapa di Pulau Jawa, meski penggunaannya hanya sebatas daunnya saja. Dalam buku itu, diketahui bahkan hingga tahun 2002 sagu masih dibudidayakan di Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Di Jepara, Jawa Tengah, sagu masih dapat dijumpai dengan sebutan rembulung sebagai makanan pokok selain nasi. Namun, agaknya sagu kurang populer di kalangan orang Jawa. Kita kerap mendengar sebuah ungkapan ana dina ana sega (tiada hari tanpa nasi) yang menjelaskan bahwa nasi lebih populer bagi mereka.

Baca Juga: Siswi SMP di Purworejo Menjadi Korban Bullying

Fakta Menarik Sagu Nusantara menurut Arif Ahmad

Dalam bukunya, Arif Ahmad mengemukakan sejumlah fakta menarik soal sagu di Nusantara ini. Anggapan bahwa sagu adalah makanan khas orang Papua bisa benar, dan bisa sebaliknya. Benar, karena hingga kini mereka masih menjadikannya makanan pokok, dan salah apabila melihat jejak persebaran sagu di Nusantara. Sagu juga dijadikan makan di wilayah lainnya, seperti Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Bukti persebaran tersebut dapat terungkap lewat nama-nama makanan yang kini tinggal nama saja. Sebutlah salah satunya kue sagon, dalam masyarakat Jawa, kue tersebut terbuat dari sagu.

Sagon, kini berbahan dasar beras ketan. Dahulu, sagon menggunakan sagu sebagai bahan dasarnya. Menukil dari karya Arif Ahmad, Sagu Papua untuk Dunia, kata sega dalam masyarakat Jawa sendiri dapat diartikan sebagai sumber karbohidrat, dan tidak hanya merujuk pada nasi. Mengapa demikian? Orang Jawa menyebut nasi dengan sega beras, dan menyebut nasi dari jagung dengan sega jagung. Ini merupakan tanda bahwa sagu pernah memiliki peran penting dalam peradaban masyarakat Jawa.

Menyoal kasus persebaran sagu tersebut, maka sebenarnya sagu adalah makanan yang banyak dijumpai di Nusantara. Namun, mengapa sekarang hanya masyarakat Papua yang masih menggunakannya sebagai makanan pokok? Padahal, sagu merupakan tanaman yang tidak tergantung musim dan memiliki daya tahan di lingkungan margina, seperti lahan gambut.