Pasar Adalah Tempat yang Allah Benci
Pasar Adalah Tempat yang Allah Benci. Sumber: Shutterstock

Pasar Adalah Tempat yang Allah Benci – Siapa yang tidak pernah ke pasar? Siapapun pasti pernah menyambangi tempat itu. Bukan hanya untuk sekadar beli keperluan sehari hari saja. Namun, pasar juga bisa menjadi tempat rekreasi dan hiburan seseorang.

Tempat yang Allah Benci

Bagi seorang muslim, kita perlu mengetahui status pasar dalam kaidah syar’i. Menurut riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَحَبُّ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا ، وَأَبْغَضُ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ أَسْوَاقُهَا

“Tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid dan tempat yang paling dibenci oleh Allah adalah pasar.” (HR. Muslim 671).

Bahwa pasar adalah tempat yang Allah tak sukai. Lantas, ini memunculkan pertanyaan. Pertama, bukankah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dahulu juga berdagang dalam pasar? Kemudian, tak sahabat Nabi pun juga melakukan hal yang sama.

Kedua, bagaimana tempat untuk membeli kebutuhan sehari-hari menjadi tempat yang Allah benci?

Dengan demikian, kita perlu tahu hukum tentang pasar. Atas pertanyaan tersebut ada beberapa kajian yang dapat membuat kita paham. Bagaimana seharusnya sikap kita kala menyambangi pasar dan bagaimana kita berperilaku.

Pergi ke Pasar Jika Ada Perlunya Saja

Baca juga: Rakyat Tagih Janji Pemkab Nabire Soal Bangun Pasar

Pertama mengapa Allah membenci pasar adalah karena pasar membuat manusia lalai. Begitu banyak hal yang ada pada pasar. Baik makanan maupun barang dagangan, semuanya membuat manusia sibuk.

Hal ini membuat manusia lupa kepada Allah. Sebagaimana firman Allah ta’ala,

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka Itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al Hasyr: 19).

Kedua, bahwa pasar adalah tempatnya tipu daya, riba, sumpah palsu, hingga penipuan. Kita tentu tak dapat menjamin bahwa semua orang berlaku jujur saat berdagang. Oleh karenanya, Allah hendak melindungi kita dari hal-hal buruk seperti itu.

Imam an-Nawawi menyampaikan hal tersebut. Ia berkata,

لأنها محل الغش ، والخداع ، والربا ، والأيمان الكاذبة ، وإخلاف الوعد ، والإعراض عن ذكر الله ، وغير ذلك مما في معناه ، والمساجد محل نزول الرحمة ، والأسواق ضدها

“Karena pasar, umumnya dalah tempatnya orang curang, menipu, transaksi riba, sumpah palsu, menyalahi janji, tidak ingat Allah, dan aktivitas lainnya yang semakna. Kemudian, masjid adalah tempat turunnya rahmat. Sementara pasar kebalikannya.” (Syarh Shahih Muslim, 5/171).

Ketiga, pasar adalah tempat laki-laki dan perempuan berbaur. Umat muslim harus menghindari berkerumun bersama lawan jenis. Imam Al-Qurthubi mengatakan,

في هذه الأحاديث ما يدل على كراهة دخول الأسواق ، لا سيما في هذه الأزمان التي يخالط فيها الرجال النسوان ، وهكذا قال علماؤنا

“Dalam hadis-hadis di atas terdapat dalil dibencinya masuk pasar. Terutama di zaman ini, lelaki dan wanita bercampur jadi satu. Demikian yang disampaikan guru-guru kami.”

Dengan demikian, alasan Allah membenci pasar karena ada mudharat padanya. Mulai dari penipuan hingga pencampurbauran laki-laki dan perempuan. Lantas, apa yang harus kita lakukan?

Jangan Lalai Kala Masuk Pasar

Baca juga:

Dahulu, Nabi juga berdagang dalam pasar. Beliau pun berjalan-jalan padanya. Hal ini sesuai dengan firman Allah ta’ala,

وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الْأَسْوَاقِ

“Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar.” (QS. al-Furqan: 20)

Selanjutnya, hal ini menjelaskan bahwa kita boleh pergi ke pasar untuk suatu keperluan. Misalnya untuk mencari rezeki atau untuk membeli keperluan rumah tangga. Namun, yang membuatnya menjadi buruk adalah ketika kita melakukan maksiat.

Karena itu ada hal yang dapat kita lakukan agar terhindar dari keburukan pasar. Dari ‘Abdullah bin Busr, ia berkata,

جَاءَ أَعْرَابِيَّانِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ أَحَدُهُمَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ خَيْرٌ قَالَ « مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ ». وَقَالَ الآخَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ شَرَائِعَ الإِسْلاَمِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَىَّ فَمُرْنِى بِأَمْرٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ. فَقَالَ « لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْباً مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Ada dua orang Arab (badui) mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas salah satu dari mereka bertanya: Wahai Rasulullah, manusia bagaimanakah yang baik? Beliau menjawab: yang panjang umurnya dan baik amalannya. Salah satunya lagi bertanya: Wahai Rasulullah, sesungguhnya syari’at Islam amat banyak. Perintahkanlah padaku suatu amalan yang bisa kubergantung padanya. Beliau menjawab: Hendaklah lisanmu selalu basah untuk berdzikir pada Allah,” jawab beliau. (HR. Ahmad 4: 188)

Mohonlah pertolongan kepada Allah dengan cara mengingat-Nya. Salah satu caranya adalah terus berdzikir kala sedang dalam pasar. Semoga Allah menghindarkan kita dari keburukan-keburukan yang ada padanya.