Pasien Covid-19 di Papua Meninggal Karena ‘Badai Sitokin’
beritapapua.id - Pasien Covid-19 di Papua Meninggal Karena ‘Badai Sitokin’ - Suara Papua

Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Papua  mengatakan salah seorang pasien Covid-19 di Papua meninggal akibat ‘badai sitokin’. Keterangan tersebut disampaikan oleh dr Silwanus Sumule, seperti dilansir dari detik.com, Rabu (17/6/2020) malam.

“Ini kasus pertama di Papua, di mana virus Corona yang ada pada tubuh pasien sangat ganas dan dalam jumlah yang banyak,” kata Jubir Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Papua, dr Silwanus Sumule, Rabu (17/6/2020) malam.

Badai sitokin bukanlah penyakit penyerta virus corona. Ia adalah sebutan bagi kondisi manusia yang kelebihan zat sitokin. Zat ini, sebagaimana disampaikan oleh dr. Silwanus, muncul kala virus corona menyebar dengan ganas dalam tubuh pasien.

Secara alamiah, tubuh manusia mengeluarkan sitokin sebagai zat untuk melawan virus corona. Namun, ketika zat sitokin terlalu banyak ia justru merusak tubuh. Khususnya bagian ginjal. Karena sitokin keluar dalam jumlah yang sangat banyak, maka ia disebut ‘badai sitokin’. Kerusakan pada ginjal akibat ‘badai sitokin’ dapat berakibat fatal bagi manusia.

“Sehingga saat virus itu masuk tubuh pasien ini merespons dengan mengeluarkan zat sitokin untuk melawan virus. Karena zat sitokin yang dikeluarkan tubuh pasien sangat banyak, yang kita istilahkan dengan ‘badai sitokin’, justru menyerang ginjal pasien,” jelas Silwanus.

Silwanus kembali menerangkan perihal kaitan Covid-19, paru-paru dan ginjal. Menurut beliau, virus corona membahayakan dua bagian tubuh, yakni paru-paru dan ginjal. Seperti yang diketahui secara umum, virus corona menyerang paru-paru manusia. Sedangkan untuk ginjal manusia, sitokin menjadi zat yang mengancamnya.

“Jadi pasien ini ada dua organ tubuh vitalnya yang terserang. Oleh virus Corona menyerang paru-parunya, sementara akibat ‘badai sitokin’ justru menyerang ginjal pasien. Belum lagi di tambah usia pasien yang memasuki masa lansia,” terang Silwanus.

Baca Juga: Pesawat Tempur Milik TNI AU Jatuh di Riau

Antara Sitokin dan Covid-19

Penanggungjawab Logistik dan Perbekalan Farmasi RSUP Dr. Kariadi Semarang, Mahirsyah Wellyan TWH., S.Si., Apt., Msc., menjelaskan perkara sitokin. Ia menjelaskan bahwa sitokin adalah protein yang dihasilkan oleh sistem kekebalan tubuh untuk memicu peradangan. Fungsinya adalah melindungi daerah infeksi sekaligus memanggil sistem kekebalan tubuh untuk datang ke daerah infeksi.

“Pada kasus Covid-19, sitokin bergerak menuju jaringan paru-paru untuk melindunginya dari serangan SARS-CoV-2,” jelas Mahirsyah saat menjadi pemateri dalam Webinar tentang Upaya Pengobatan Covid-19 di Indonesia yang diadakan Politeknik Indonusa Surakarta bekerja sama dengan PC PAFI Surakarta, dilansir dari kompas, Sabtu (16/5/2020).

Baca juga: Tipologi Ragam Bahasa di Papua

Normalnya, sitokin hanya berfungsi sebenar hingga sistem kekebalan tubuh tiba di daerah infeksi. Namun dalam kasus badai sitokin, ia terus memanggil sistem kekebalan tubuh hingga tidak terkendali. Akibatnya, paru-paru mengalami peradangan parah meski infeksi sudah selesai.

Dalam kondisi tersebut, sistem kekebalan tubuh juga mengeluarkan racun untuk membunuh virus. Sayang, racun itu dapat melukai paru-paru. Ini yang menjelaskan mengapa pasien Covid-19 kesulitan untuk bernapas.

Namun, kasus badai sitokin tergantung pada daya tubuh seseorang. Menurut Mahirsyah, badai sitokin tidak terjadi lantaran virus dapat dikalahkan oleh daya tahan tubuh.