Pelaku Pelecehan Siswi di Sulut Tidak Ditahan, Kenapa?
beritapapua.id - Pelaku Pelecehan Siswi di Sulut Tidak Ditahan, Kenapa?

Kasus pelecehan yang dilakukan sejumlah siswa terhadap seorang siswi SMK di Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara (Sulut) mengundang perhatian sejumlah kalangan. Dalam sebuah video yang beredar di media sosial menunjukkan, siswi berinisial RG tersebut digerayangi oleh ke lima temannya yaitu RM, FL, NP, PN dan NR.

Menurut Kabid Humas Polda Sulut Kombes Jules Abraham Abast, para pelaku melakukan tindakan tersebut hanya untuk bercanda atau iseng sembari menunggu guru di kelas.

“Dari hasil pemeriksaan awal yang kami lakukan, kejadian di video tersebut dibuat sebagai bahan candaan atau iseng, tanpa maksud apa ppun sambil menunggu guru di kelas,” ujar Jules dilansir dari detik.com.

Selanjutnya, dalam keterangan lain Jules menyebutkan ke lima pelaku tersebut sudah ditetapkan sebagai tersangka atas perbuatan pelecehan sesksual yang terjadi pada siswi RG.

“Kelimanya sudah ditetapkan sebagai tersangka,” ucap Jules.

Kendati sudah ditetapkan sebagai tersangka, namun ke lima pelaku tersebut tidak ditahan melainkan hanya dikenai sanksi wajib lapor setiap hari. Hal ini dikarenakan para pelaku yang masih terhitung di bawah umur. Walau begitu, proses hukum tetap berjalan.

Atas perbuatannya tersebut, ke lima pelaku dikenakan Pasal 82 Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Mereka diancam dengan ancaman hukuman minimal lima tahun dan maksimal 15 tahun kurungan.

Baca Juga: Angkasa Pura II Siapkan Jalur Khusus Bagi Penumpang Dari 4 Negara

Mengapa Para Pelaku Tidak Ditahan?

Kasus pelecehan seksual yang menimpa seorang siswi di SMK Bolaang Mongondow Sulawesi Utara hingga kini masih menjadi perdebatan. Hal ini dikarenakan para pelaku tersebut tidak dilakukan penahan oleh kepolisian melainkan hanya dikenakan wajib lapor setiap hari.

Lalu bagaimana penerapan yang seharusnya?

Jika kita melihat lebih jauh kasus ini, maka kita sepakat bahwa para pelaku masih dalam kategori di bawah umur. Hal ini dikarenakan rata-rata usia pelaku yaitu 16-17 tahun. Oleh karena itu, proses peradilannya pun melalui proses Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA).

Sesuai dengan Pasal 1 ayat 3 UU No 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, dimana setiap anak yang berhadapan dengan hukum dan berusia 12 tahun tetapi belum mencapai 18 tahun maka dalam proses penyelesaiannya harus melalui SPPA.

Selanjutnya, jika kita melihat Pasal 32 ayat 2 UU No 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, maka para pelaku seharusnya sudah dapat dilakukan penahanan. Hal ini bukan tanpa sebab, melihat ancaman yang dikenakan kepada pelaku yakni Pasal 82 UU No 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak yang diancam hukuman maksimal 15 tahun penjara.

Berikut isi Pasal 32 ayat 2 UU No 11 Tahun 2012 :

(2) Penahanan terhadap Anak hanya dapat dilakukan dengan syarat sebagai berikut:

  1. anak telah berumur 14 (empat belas) tahun atau lebih; dan
  2. diduga melakukan tindak pidana dengan ancaman pidana penjara 7 (tujuh) tahun atau lebih.

Dengan begitu seharusnya para pelaku pelecehan seksual terhadap seorang siswi di SMK Sulawesi Utara dapat dilakukan penahanan. Karena telah memenuhi unsur-unsur dari pasal tersebut.