Pelik Permasalahan Grooming Oom-Oom dan Remaja Perempuan
Ilustrasi kasus pelecehan (foto : shutterstock)

Pelik Permasalahan Grooming Oom-Oom dan Remaja Perempuan – Remaja dan aktivitas seksualnya kembali menjadi sorotan dalam perdebatan dunia maya. Pembicaraan ini dipicu oleh salah satu tweet akun dokter yang dengan gamblangnya menghakimi perilaku salah satu pasien remajanya yang telah aktif secara seksual.

Dalam cuitannya, dokter tersebut mengekspresikan kekhawatirannya terhadap remaja berusia 18 tahun yang sudah aktif secara seksual. Namun, bukan itu yang memantik perdebatan netizen.

Yang menjadi perdebatan netizen adalah, konteks seorang remaja perempuan yang berumur 18 tahun, melakukan hubungan seksual secara aktif dengan seorang pria dewasa.

Grooming : Berhubungan Seksual Dengan Umur 18 Tahun

Banyak yang berpendapat bahwa usia 18 tahun merupakan usia remaja yang belum matang pemikirannya. Kesimpulannya jika remaja tersebut melakukan hubungan seksual dengan pria yang jauh perbedaan umur di atasnya, maka pria ini disebut melakukan pelecehan yang dinamakan “grooming”

Di lain pihak, banyak juga yang mengatakan bahwa remaja perempuan yang berumur 18 tahun dan melakukan hubungan seksual secara konsensual, sudah bisa dikatakan dewasa.

Patokan umur dewasa dalam perundangan kita memang ada yang mendefinisikan demikian. Namun beda perundangan, beda pula definisinya. Tergantung dari apa yang diatur di dalam perundangan tersebut.

Batasan Dewasa Dalam Peraturan Perundangan

Di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata), batasan usia dewasa adalah 21 tahun.

Batasan yang diatur di dalam Pasal 330 ini, adalah dengan maksud mengukur kompetensi seseorang sebagai cakap atau mampu dalam bertanggung jawab untuk melakukan perbuatan hukum.

Sedangkan di dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, usia dewasa adalah ketika seseorang telah menginjak usia 18 tahun. Hal ini diatur di dalam Pasal 47.

Baca Juga : Benarkah 90 Persen Penyakit Datang dari Pikiran?

Batasan yang diatur di dalam UU Perkawinan ini adalah, usia minimal seseorang untuk mengikatkan dirinya di dalam sebuah perkawinan.

Di dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, batasan usia dewasa adalah mereka yang sudah mencapai usia 18 tahun.

WHO dan Kemenkes Berbeda

Usia dewasa dibatasi oleh World Health Organization dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI pada 20 tahun.

Menurut badan kesehatan dunia dan Indonesia ini, kerentanan mental seseorang itu justru ketika ia menginjak usia 14 hingga 20 tahun. Hingga, pada usia ini, seseorang belum dianggap matang dalam mengambil sebuah keputusan, terutama konsensualitas dalam permasalahan hubungan seksual.

Usia seseorang yang dianggap dewasa adalah 20 tahun ke atas. Pada rentang usia ini, seseorang dianggap sadar akan konsekuensi dari semua perbuatannya. Jadi, batasan mana yang perlu kita ikuti untuk mengetahui kadar kedewasaan seseorang? Tergantung perbuatan apa yang dimaksud.