Pembelajaran Buta Aksara di Jayapura Akan Segera Dilakukan
beritapapua.id - Kepala Seksi Pendidikan Keaksaraan, Kesetaraan, Keluarga Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura, Nur Jaya (foto : jubi)

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura, Provinsi Papua, akan melakukan pembelajaran buta aksara secara tatap muka di masa pandemi Covid-19. Dan kegiatan pembelajaran buta aksara tersebut secara bertahap atau dengan sistem bergantian. Nantinya pembelajaran akan mulai dari keaksaraan dasar seperti belum bisa baca, tulis, hitung, mengenal warna.

Kepala Seksi Pendidikan Keasksaraan, Kesetaraan, Keluarga Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kota Jayapura, Nur Jaya juga berpendapat mengenai hal tersebut.

“Semoga tahun ini bisa dilakukan, setidaknya secara bertahap dan mengikuti protokol kesehatan. Setiap hari kami lakukan pembinaan,” ujar di Kantor Wali Kota Jayapura, Rabu (09/06/2021).

Nur mengatakan pembelajaran buta aksara yang para ibu rumah tangga ikuti pada Maret 2020 lalu kini sudah tidak lagi berjalan maksimal karena pandemi Covid-19. Selain itu Pembelajaran online juga tidak bisa efektif.

Ia juga menjelaskan kegiatan pembelajaran buta aksara normalnya akan terdapat 20 orang dalam satu kelompok. Namun saat ini akan terjadi pengurungan untuk mengikuti protokol kesehatan.

Sebanyak 422.165 Jiwa Masih Buta Aksara

Selain itu, ia menjelaskan bahwa angka untuk buta aksara di Kota Jayapura masih terbilang cukup banyak yaitu sebanyak 422.165 jiwa.

“Ada tujuh PKB yang melaksanakan kegiatan pembelajan buta aksara. Yang masih buta aksara ada 410 orang atau sisa 0,9 persen dari jumlah penduduk (Kota Jayapura) 422.165 jiwa. Yang sudah melek aksara ada 99,91 persen pada 2020,” ujar Nur.

Baca Juga : Komisi IV DPR Papua Minta Kemenkominfo Jamin Layanan Akses Internet

Nur juga mengatakan alasan mendasar kenapa ada sebagian orang yang buta aksara lantaran, sebagian orang itu adalah pedagang dan petani sehingga tidak kesempatan dan waktu untuk belajar.

Sebelumnya, Sekretaris Daerah Kota Jayapura, Frans Pekey, mengatakan pendidikan tidak mengenal batas usia untuk belajar. Ia berkata asal ada kemauan untuk belajar maka pasti bisa mengikuti proses belajar yang bisa membuat pintar.

“Belum ada kata terlambat untuk belajar dan mengasah kemampuan sehingga bisa membaca, menulis, dan berhitung agar bisa diajarkan kepada anak,” ujar Pekey.

Pekey menutukan harus ada kerjasama dari para stakeholder untuk menuntaskan angka buta aksara. Apalagi, Kota Jayapura terkenal sebagai barometer pendidikan di Tanah Papua.

“Aksara merupakan sarana yang mengantarkan cakrawala pengetahuan dan peradaban suatu bangsa, karena aksara membentuk wacana yang dapat dikenali, dipahami, diterapkan dari generasi ke generasi,” ujar Pekey.