Pemkab Manokwari Berkomitmen Jadikan Wokwam Sebagai Daerah Pengahasil Kopi
beritapapua.id - Bupati Manokwawri, Hermus Indou menyerahkan bantuan berupa 16.500 bibit kopi Abika saat berkunjung ke Mokwam. (Dok. Pemkab Manokwari)

Pemkab Manokwari berkomitmen menjadikan wilayah Mokwam sebagai daerah penghasil kopi. Hal itu untuk mendukung Mokwam yang juga sebagai destinasi wisata burung pintar.

Bupati Manokwari, Hermus Indou, mengatakan semula target awal penanaman kopi di wilayah Mokwam seluas 30 Hekatre (Ha). Namun turun menjadi 15 Ha. Selain itu, target penanaman kopi yang semula dilaksanakan di 9 kampung, juga turun menjadi hanya 6 kampung.

“Ini terkait dengan kemampuan fiskal daerah atau keuangan yang ada di APBD Kabupaten Manokwari,” ujar Hermus ketika melakukan penanaman perdana kopi di Kampung Kwau, Mokwam, Distrik Warmare, Selasa (01/03/2022).

Akan tetapi, menurut Hermus, masyarakat tidak usah berkecil karena Pemkab Manokwari berkomitmen memenuhi kekurangan tersebut.

“Tidak usah berkecil hati karena saya berkomitmen yang kurang itu kita harus kembalikan. Kita bisa tambahkan lagi. Kalau bisa tahun depan seluruh kampung di wilayah Mokwam kalau bisa kita tanami kopi,” sebutnya.

Menurut Hermus, wilayah Mokwam akan menjadi daerah penghasil kopi. Selain untuk meningkatkan ekonomi kerakyatan juga karena wilayah Mokwam menjjadi destinasi wisata.

“Kenapa kopi harus di sini. Selain kita ekonomi kerakyatan kita bisa kembangkan, kita lindungi lingkungan kita, tapi yang paling penting adalah di wilayah Mokwam ini akan jadi destinasi wisata,” ujarnya.

Hermus menambahkan bahwa pengembangan kopi harus menjadi satu paket dengan destinasi wisata burung pintar di Kampung Kwau, Mokwam.

“Ini jadi prioritas. Karena itu, nanti saya minta kepada Bappeda, kepala Dinas Pariwisata, Dinas Pertanian dan juga kepala Dinas PUPR untuk semua ini harus terintegrasi. Semua yang kita bangun di sini harus terintegrasi,” tandas Hermus.

Penanaman Kopi di 9 Kampung

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Manokwari, Kukuh Saptoyudo, menyampaikan kegiatan penanaman kopi merupakan kegiatan Tahun Anggaran 2021. Dalam perencanaan awal, seharusnya penanaman kopi dilaksanakan di atas lahan seluas 30 Ha yang tersebar di 9 kampung sesuai dengan usulan kepala distrik.

“Tetapi karena perjalanan yang kita tahu ada rasionalisasi, sehingga kita berkurang. Bukan lagi 30 Ha tapi hanya 15 Ha. Jadi kampung yang menerima pun semula 9 sekarang menjadi hanya 6 kampung,” ungkapnya.

Baca Juga: Kasus Covid-19 di Jayapura Menurun, Namun Masih Ada Distrik Zona Merah

Menurutnya, penanaman kopi sudah dilakukan di kampung lain. Hanya tinggal Kampung Kwau yang baru dilakukan penanaman.

“Jadi untuk bapak kelompok tani di Kwau mohon bersabar, yang lain sudah menanam tetapi baru kali ini kita bisa menanam. Tetapi bukan berarti yang dahulu itu akan sampai kepada hasil yang terdahulu, belum tentu. Semua tergantung dari kita yang kerawat. Kalau menanam duluan tapi tidak merawat dengan baik, ya mungkin yang tanam belakangan bisa mendahului mendapatkan hasil. Jadi siapa yang rajin akan mendapatkan hasil yang baik,” pungkasnya.