Pendeta Ortodoks Ditembak di Lyon
Beritapapua.id - Pendeta Ortodoks Ditembak di Lyon - Tribun

Pendeta Ortodoks Ditembak di Lyon – Seorang pendeta Ortodoks bernama Nikolaos Kakavelakis terluka dalam penembakan yang terjadi di kota Lyon, Perancis, pada Sabtu (31/10). Menurut keterangan dari polisi setempat, penyerang sempat melarikan diri setelah melakukan penembakan tersebut.

Peristiwa penembakan itu terjadi pada pukul 16.00 waktu setempat, saat Nikolaos hendak menutup rumah ibadah. Pelaku menggunakan senjata shotgun laras pendek yang biasa digunakan untuk berburu.

Akibat penembakan tersebut, Nikolaos saat ini berada dalam kondisi kritis karena menerima tembakan sebanyak dua kali di bagian perut.

Beberapa jam setelah kejadian, polisi kemudian menangkap seorang terduga di sebuah kios kebab di Lyon. Namun, pihak kepolisian belum mengkonfirmasi apakah orang tersebut adalah pelaku penembakan, atau masih ada kemungkinan adanya tersangka lain dalam peristiwa ini. Motif dari pelaku juga masih belum diketahui.

“Sampai saat ini, kami masih belum mengetahui motifnya seperti ini,” jelas Wali Kota Gregory Doucet kepada para wartawan.

Saat ini, Kejaksaan Lyon sedang melakukan investigasi atas peristiwa tersebut dan berjanji akan mengungkapnya dalam waktu dekat.

 Baca Juga: Presiden Jokowi Meresmikan Stasiun TVRI Papua Barat

Penyerangan Sebuah Gereja di Nice

Sebelumnya, pada Kamis (29/10), terjadi sebuah penyerangan di sebuah Gereja di Nice. Penyerangan tersebut menyebabkan tiga orang meninggal. Salah seorang korban wanita bahkan dipenggal kepalanya.

Pelaku merupakan seorang pria Tunisia bernama Brahim Aouissaoui (21). Ia merupakan imigran asal Tunisia yang melakukan perjalanan secara illegal ke Perancis. Dalam penyerangannya, Brahim menggunakan sebilah pisau untuk menghabisi para korban.

Menteri Dalam Negeri Prancis Gerald Damarnin mengatakan bahwa Perancis berpotensi menerima serangan teror lainnya. Ia pun memperingati warga Perancis terkait kemungkinan situasi yang akan kembali memanas di Perancis.

“Kami sedang berperang melawan musuh yang ada di dalam dan di luar. Kita harus memahami bahwa telah dan akan ada peristiwa penyerangan lain serupa seperti serangan mengerikan ini,” jelas Gerald, Jumat (30/10).

Presiden Perancis, Emmanuel Macron berjanji akan mengerahkan ribuan tentara untuk melindungi lokasi-lokasi penting seperti tempat ibadah dan sekolah.

“Prancislah yang sedang diserang. Karena itu saya telah memutuskan bahwa tentara kita akan lebih dimobilisasi dalam beberapa jam mendatang. Sebagai bagian dari Operasi Sentinel, kami akan mengirimkan 3.000 menjadi 7.000 tentara,” tulis Macron dalam laman twitternya, @EmmanuelMacron, Kamis (29/10).