Pengamat: Bantuan Sosial Tidak Lancar, Aksi Kriminal Gencar
beritapapua.id - Pengamat: Bantuan Sosial Tidak Lancar, Aksi Kriminal Gencar - Kabar3

Pengamat: Bantuan Sosial Tidak Lancar, Aksi Kriminal Gencar – “Problemnya adalah pemerintah tidak cukup komprehensif memberikan bantuan secara matang untuk memberikan jaminan kehidupan kepada mereka, pendataan kita kurang baik,” jelas Direktur Imparsial Al Araf, dikutip dari CNNIndonesia.com, Minggu (3/5), 2020.

Belum lama ini ramai dibicarakan perihal aksi kriminal yang meningkat. Isu tersebut ditengarai berasal dari kebijakan pembebasan narapidana oleh Menteri Hukum dan HAM, Yasonna Laoly. Namun, pengamat mengatakan bahwa hal itu mungkin bukan satu-satunya alasan.

Direktur Imparsial, Al Araf, mengungkapkan bahwa pemberian bantuan sosial yang tak efektif dalam masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) berpotensi meningkatkan ketegangan dalam masyarakat. Menurutnya, pemberian bantuan sosial (bansos) yang efektif kepada warga tak hanya dapat mencegah mereka agar tidak mudik, namun juga mampu menekan angka kejahatan.

Pernyataan tersebut didukung oleh sejumlah fakta seperti tidak lengkapnya data penerima bantuan hingga distribusi yang berantakan. Sebagaimana dikatakan oleh Ketua Komisi VIII DPR, Yandri Susanto, soal semrawutnya bansos. Ia mendapati adanya keluhan masyarakat ihwal penerimaan bansos pada masa pandemi Covid-19 ini. Dugaannya, banyak masyarakat miskin belum terdata.

“Saya dengar banyak keluhan masyarakat yang merasa berhak menerima kok tidak menerima. Mungkin mereka belum didata karena selama ini mereka tidak masuk dalam data kesejahteraan sosial terpadu, tidak masuk di data kemiskinan, sekarang mereka jadi miskin. Nah, itu pemerintah enggak boleh menutup mata seperti itu,” kata Yandri.

Menurut Al Araf, warga sudah cukup merasakan tekanan. Mulai dari pembatasan aktivitas, larangan mudik, hingga phk, kemudian masih harus menelan kenyataan pahit tidak menerima bansos. Tekanan yang dialami oleh warga menurutnya dapat memicu kejahatan.

“Alasannya karena sudah 2 hingga 3 bulan tidak bisa makan dan tidak punya uang. Tidak ada kepastian mereka mendapat bansos, ditambah program BLT dan Bansos tidak tepat sasaran,” kata Al.

Baca Juga: Filosofi Suku Batak dalam Perekat Perbedaan

Kemelut Sosial Imbas Corona

Polda Metro Jaya mengamini pernyataan peningkatan kasus kejahatan di DKI Jakarta. Menurut data pada 20 April lalu, Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol. Yusri Yunus di Mako Polda Metro Jaya, mengatakan adanya peningkatan tindak pidana perampokan pada mini market dan pencurian kendaraan bermotor.

“Betul, ada pergeseran, curat (pencurian dengan pemberatan) ada peningkatan dalam curanmor (pencurian kendaraan bermotor) maupun juga sekarang ini bergeser ke minimarket, karena memang situasi pandemi ini banyak orang di rumah, minimarket hanya sampai pukul 22.00 WIB, mereka rata-rata beraksi di atas jam 01.00 WIB,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol. Yusri Yunus di Mako Polda Metro Jaya.

Pernyataan serupa dijelaskan oleh Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabagpenum) Polri Kombes Pol Asep Adi Saputra. Ia menjelaskan terdapat peningkatan tidak kejahatan di Jakarta sebesar 11,80 persen saat PSBB. Tak hanya di Jakarta, Bogor pun terjadi hal serupa.

Kombes Pol Asep Adi Saputra mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, serta mampu bekerja sama menjaga lingkungannya. Hal tersebut dilakukan demi menjaga keamanan lingkungan serta membatasi ruang gerak pelaku kejahatan.