Penunjang Kehidupan Masyarakat Bintuni
Penunjang Kehidupan Masyarakat Bintuni

Penunjang Kehidupan Masyarakat Bintuni – Tanah merupakan sebuah landasan dan bagian dari lapisan bumi yang mengandung berbagai macam mineral dan penunjang kehidupan semua makhluk. Kandungan tanah yang subur merupakan sebuah anugerah yang tidak ternilai harganya. Indonesia sangat mashyur dengan pertanian dan tanah yang mampu menumbuhkan hampir segala jenis tumbuhan tropis. Struktur tanah, kondisi, dan letak geografis seringkali menjadi salah satu pembentuk ekosistem dan habitat bagi tanaman maupun binatang endemik yang tidak akan bisa ditemukan dikawasan atau daerah lain.

Tanah yang sehat dan kaya akan kandungan mineral tersebut juga merupakan salah satu asset bagi Teluk Bintuni, Papua Barat. Tidak seluruh wilayah di Papua memiliki hamparan tanah yang subur. Namun, definisi tanah yang subur ini juga sangat bergantung, bisa jadi ia subur dan kaya akan mineral namun ia hanya cocok bagi jenis tanaman tertentu, misalnya pohon kopi dan coklat. Namun, hampir bisa dipastikan ini justru membentuk sebuah pola yang unik yang mampu mendukung kehidupan di daerah itu. Salah satunya pohon sagu, seperti yang telah kita ketahui bersama, masyarakat timur Indonesia lebih sering mengkonsumsi sagu dibanding nasi. Hal tersebut karena lebih banyak ditemukan pohon sagu yang tidak ditemukan atau bahkan tumbuh di daerah bagian barat Indonesia.

Baca Juga: Sekilas Cerita Suku Nayak Lembah Baliem

Tanah Sebagai Media Utama Perekonomian Masyarakat Teluk Bintuni

Basis perekonomian masyarakat Teluk Bintuni dan Papua Barat secara keseluruhan sangatlah berhubungan dan bertumpu pada tanah. Yaitu di bidang pertanian dan kehutanan. Melalui usaha-usaha di bidang tersebut, masyarakat di wilayah ini dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Bagi masyarakat lokal di kampung-kampung kawasan Distrik Bintuni, pertanian sejatinya memang menjadi nafas bagi aktualitas diri mereka. Distrik Bintuni kini dihidupi oleh para kaum peladang yang dulu dipindahkan secara bertahap oleh pemerintah. Proses relokasi dari wilayah Pegunungan Anggi ke dataran Teluk Bintuni itu sebenarnya merupakan pilihan yang tepat. Wilayah dengan luas sekitar 18.658 km persegi yang memiliki tanah subur cocok bagi beragam komoditi pertanian dan perkebunan.

Kekayaan yang melimpah pada lapisan tanah dengan kandungan mineral yang tinggi tersebut sebagai penunjang kehidupan masyarakat. Hal tersebut sangat mungkin dipengaruhi oleh kekayaan dan keberlimpahan kandungan mineral bumi yang juga berada di dalam perut bumi kawasan Teluk Bintuni.