Peradaban Awal Kehidupan Papua
Beritapapua.id - Peradaban Awal Kehidupan Papua

Peradaban Awal Kehidupan Papua Di Masa Lalu – Peninggalan masa lalu merupakan sebuah harta dan pengetahuan yang sangat berharga bagi ilmu pengetahuan. Di setiap daerah nusantara menyisakan kisah-kisah yang belum terungkap mengenai masa lalu. Danau Sentani terletak di Kabupaten Jayapura, luasnya 9.360 hektar. Di danau ini terdapat 21 gugusan pulau yang tersebar di tiga wilayah, Sentani Tengah, Barat dan Timur. Sejak dulu wilayah ini dipandang wilayah hidup ideal manusia, karena alam mendukung kebutuhan kehidupan.

Peradaban Awal Kehidupan Papua

Dalam buku Ekologi Papua (2012) disebut, jika Danau Sentani merupakan bekas teluk yang terputus oleh pengungkitan tektonik. Di pesisir lain garis pantai awal yang terbuka, secara berangsur terputus dengan pertumbuhan karang yang membentuk terumbu karang dan memperlambat energi gelombang, sehingga menciptakan banyak laguna. Dari sebuah sampel inti 10 meter lumpur menunjukkan umur danau ini sekitar 70.000 tahun. Temuan ekskavasi menjelaskan bahwa manusia prasejarah sangat bergantung pada Danau Sentani sebagai sumber fauna dan sumber air. Temuan alat batu penokok sagu menjelaskan hutan sagu di pinggir Danau Sentani dimanfaatkan sebagai sumber makanan.

Baca juga: Papua Dalam Catatan Masa Lalu Nusantara

Gerabah jenis periuk dan tempayan yang ditemukan diyakini berfungsi sebagai tempat merebus air dan pembuatan papeda. Cangkang moluska menjelaskan bahwa masyarakat ketika itu mengkonsumsi siput danau. Penelitian Hari Suroto dalam Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat (2013) di situs Yomokho menemukan batu-batu sungai di bagian bukit. Dia memperkirakan, batu ini berfungsi sebagai peluru dalam berburu. Batu-batu sungai itu juga bukti jelajah manusia di situs Yomokho telah menjangkau sungai-sungai hingga sampai ke pegunungan Cycloop.

Cerita rakyat menjadi salah satu panduan para arkeolog untuk menelusuri jejak hunian awal prasejarah. Dalam cerita rakyat Sentani, mereka percaya jika asal usul nenek moyang mereka berasal dari Papua New Guinea. Hal itu tampak dari beragam temuan artefak gerabah di situs Marweri Urang, di Pulau Kwadeware (2010). Gerabah ini memiliki kesamaan dengan temuan di Gua Lachitu dan Gua Taora di Vanimo, Papua New Guinea. Dalam buku Perserikatan Masyarakat dalam Otoritas Adat Kabupaten Jayapura (2011), terdapat cerita rakyat yang menjelaskan orang-orang Asei masuk dalam Konfederasi Heram, dan bermukim disuatu tempat yang disebut Honong.

Selama bertahun-tahun, mereka lakukan perjalanan migrasi sambil berburu dan meramu hingga akhirnya tiba di pinggir Danau Sentani. Kelompok ini membangun permukiman di bukit bagian atas Hebeaibhulu, sebelum berpindah dan bermukim ke sebuah bukit yang disebut Yomokho.