Noken dan Perempuan Papua
Noken dan Perempuan Papua

Papua merupakan salah satu wilayah yang sangat menjunjung tinggi keberadaan alam dan bagaimana mereka menjaga kehidupan yang selaras dengan alam. Tanah Papua dianugerahi banyak sekali kekayaan. Mulai dari daratan, laut, hingga kreativitas makhluknya menjadi hal berharga yang sepatutnya selalu dijaga dengan bijaksana. Salah satunya yaitu warisan dan cerita tentang noken Papua sebagai warisan tak benda yang dimiliki oleh sebagian besar perempuan Papua. Dari siklus lahir, hidup, dan mati,  perempuan Papua selalu menyatu dengan Noken. Keberadaan Noken menjadi penanda identitas perempuan Papua untuk dihargai sesuai harkat dan martabatnya sebagai manusia yang berjenis kelamin perempuan dan sebagai makhluk Tuhan.

Noken sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan perempuan Papua. Noken merupakan bagian dari keberagaman warisan yang melekat dengan prinsip-prinsip kesetaraan perempuan dalam sejarah kehidupan suku-suku bangsanya. Sebagian cerminan antara perempuan dan noken di Papua, keragaman budaya yang tumbuh dan berkembang atas dasar kondisi geografis, kepercayaan, dan kondisi lainnya yang masing-masing ditandai oleh identitas gender, ideologi, dan karakteristik fisik noken yang khas, yang didalamnya merekam kekayaan akan keragaman cara berpikir, adat dan sistem hukum adat serta bahasa. Sebagai bukti ketangguhan dan kebesaran kekayaan mental masyarakat Papua di mata dunia internasional karena mampu merajut kehidupan keberagaman berbangsa dan bernegara, meski noken Papua berada dalam kemajemukan perbedaan budaya Nusantara.

Baca Juga: Tak Terima Ditilang, Mahasiswa Hukum UKI Gugat ke MK

Apa itu Noken Papua?

Noken dalam perspektif bahasa Indonesia dapat disejajarkan dengan kantong atau tas yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Namun, kantong atau tas tetap menjadi kantong atau tas, noken tetap menjadi noken bagi rakyat Papua. Noken dalam kehidupan rakyat Papua merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari, dan dalam rentang waktu yang cukup panjang. Bagi perempuan Papua dalam hubungannya dengan noken menggambarkan bahwa perempuan mampu melakukan perannya secara baik dan komprehensif, yakni dalam peran reproduktif (domestik), peran produktif (publik), dan peran sosial (kemasyarakatan). Kedua, ideologi yang terungkap dalam konstruksi pengetahuan dan pemikiran tentang noken dan perempuan Papua merupakan sebuah sistem yang berorientasi pada tindakan (action-oriented) yang berisi kepercayaan atau pandangan.