Perjalanan Lukas Enembe Menjadi Gubernur Papua
Lukas Enembe (foto : jpnn.com)

Nama Lukas Enembe, Gubernur Papua, akhir-akhir ini menjadi sorotan. Kasus terakhir yang membawa namanya perihal memasuki Papua Nugini (PNG) lewat jalur tikus. Kemudian, ramai media memberitakan bahwa pemerintah Papua Nugini mendeportasi Lukas Enembe.

Sebelumnya, nama Gubernur Papua dua periode ini menjadi nama stadion untuk PON 2021 nanti. Stadion Lukas Enembe terletak pada Kampung Harapan, Kab. Jayapura. Stadion seluas 13,7 hektar dengan stadion utama berukuran 71,600 meter persegi itu terlihat apik.

Memiliki daya tampung 40 ribu penonton dengan teknologi canggih. Misalnya, papan skor elektronik, peralatan waktu, dan lampu standar FIFA. Pergantian nama ini merupakan bentuk apresiasi masyarakat terhadap Lukas Enembe.

Beliau merupakan salah satu tokoh yang memperjuangkan pelaksanaan PON Papua. Lantas, bagaimana kiprahnya yang lain? Bagaimana perjalanan beliau menjadi seorang gubernur dua periode? Berikut kisahnya.

1. Mengawali Kariernya sebagai PNS

Awalnya, beliau adalah Pegawai Negeri Sipil yang bekerja pada Kantor Sospol Kabupaten Merauke. Kemudian, tahun 2001 Lukas Enembe berhasil menjadi Wakil Bupati Kabupaten Puncak Jaya.

Beliau menemani Eliezer Renmaur dalam memimpin Puncak Jaya. Selanjutnya, ketika beliau berumur 40 tahun, Lukas Enembe menjadi Bupati Puncak Jaya. Kariernya kemudian melesat ketika ia maju menjadi calon Gubernur Papua pada tahun 2013.

Itulah tahun pertama Lukas Enembe memimpin Papua sebagai gubernur. Pada tahun 2018, ia kembali maju bersama Klemen Tinal dalam Pilkada. Pasangan Lukas Enembe dan Klemen Tinal meraih 67 persen suara dan kembali menjadi Gubernur dalam periode kedua.

2. Menyuarakan Isu Rasisme Papua

Pada saat kerusuhan Surabaya ihwal isu Rasisme, ia meminta pemerintah untuk bersikap tegas. Menurut Lukas, isu rasisme sudah terjadi sejak lama kepada mahasiswa Papua. Ia menyayangkan sikap pemerintah yang ia nilai tidak mampu mengobati luka mahasiswa Papua.

Baca Juga : 4 Manfaat Sholat Tahajud, Salah Satunya Meningkatkan Karier

“Tidak bisa sederhana, menyelesaikan masalah Papua bukan seperti itu. Masalah Papua sudah rumit, rasisme itu terjadi bertahun-tahun kepada mahasiswa Papua di Jawa,” ujar Enembe mengutip kompas.com, Selasa (20/08/2019).

“Presiden hari itu (harus) perintahkan orang-orangnya tangkap, itu baru benar. Tangkap mereka, ini bukan (masalah) baru, ini sudah lama, rasisme terhadap pemain sepak bola juga terjadi,” imbuhnya.

3. Mendorong Atlet Papua ke Kancah Internasional

Pembangunan Stadion Papua Bangkit atau Lukas Enembe adalah bentuk penghargaan Gubernur terhadap atlet Papua. Terlebih, mereka yang sudah mengharumkan nama Negeri Cenderawasih dalam kancah internasional.

Salah satu contohnya adalah Raena Lisa Rumbewas, atlet angkat besi yang meraih medali perak pada ajang Olimpiade Sydney 2000. Kemudian, ada atlet karate, Novilus Yoku dan Monica sebagai atlet tembak putri.

Dan, mereka para pesepak bola Papua yang sudah terkenal. Misalnya, Boaz Solossa, Aples Tecuari, Elie Aiboy, Osvaldo Haay, Titus Bonay, dan masih banyak lagi.

Kehadiran Stadion Lukas Enembe dengan kapasitas Internasional merupakan bentuk penghargaan pemerintah terhadap mereka.