Pernyataan Mahfud MD Soal Korban HAM di Papua Jadi Karya Seni
beritapapua.id - Pernyataan Mahfud MD Soal Korban HAM di Papua Jadi Karya Seni - Tabloid Jubi

Pernyataan Mahfud MD Soal Korban HAM di Papua Jadi Karya Seni  – Terdapat banyak cara untuk menyampaikan sebuah kritik. Salah satunya menggunakan karya seni. Saat Rusia di bawah kepemimpinan Stalin, seorang pianis sekaligus komposer bernama Dimitri Shostakovich beberapa kali melontarkan kritik sosial melalui karya-karyanya.

Baru-baru ini, kritik menggunakan karya seni kembali menjadi sorotan warga Indonesia. Sebuah karya seni besutan anak Indonesia itu tengan dipamerkan di High Holborn, London, Inggris. Yang menarik dari karya ini adalah pesan yang hendak disampaikan. Menurut Henri Affandi, perupa di balik karya itu, karyanya berupaya menceritakan diskriminasi yang dialami masyarakat timur Indonesia.

“Pameran ini menceritakan kehidupan masyarakat Papua. Di balik pantai yang indah dan budaya yang kaya, masyarakat Papua ditindas dan tanah mereka dieksploitasi. Karena pandemic covid-19 ini tidak memungkinkan saya untuk menunjukkan pameran secara fisik, saya sedang mencoba untuk membuat pameran digital,” ujar Henri Affandi.

Karya ini tergolong unik. Bukan sebuah lukisan atau sebuah puisi. Ia merupa sebuah kertas berbentuk resi beserta isinya menjulur panjang dari atas meja menuju tempat sampah. Di dalam karya seni itu, disematkan nama-nama 243 korban pelanggaran Hak Asasi Manusia yang tewas di Nduga.

Idenya ini berasal dari pernyataan Mahfud MD atas dokumen yang memuat nama korban sipil yang tewas di Nduga sebagai sampah. Pernyataan ini dinilai sebagai bentuk diskriminasi negara terhadap masyarakat Indonesia Timur itu.

Karya Seni besutan pria lulusan Wimbledon College of Arts, University of the Arts London, itu ia beri judul “Sampah (Rubbish)”.

Baca Juga: Imbas Virus Covid-19, Artis Melaney Ricardo LDR dengan Suami

Bukan Sekadar ‘Resi’: Imperialisme Budaya dan Hak Masyarakat Adat

Ada alasan khusus mengapa Henri menggunakan rupa kerta resi dalam karya seninya. Dalam sebuah transaksi jual beli, resi atau struk kerap digunakan untuk menampilkan tagihan yang harus dibayar. Oleh karena itu, resi dalam karya seninya disebut sebagai simbol ganti rugi terhadap apa yang telah dilakukan terhadap korban HAM.

Apabila dalam struk pada umumnya terdapat harga dari barang yang dibeli, Henri tidak melakukannya untuk karya seninya. Menurut Henri, mencantumkan harga dari jiwa yang gugur sebagai korban tidak sepadan. Hal itu justru menggambarkan bahwa ganti rugi hanya cukup dibayar dengan uang. Lantas, Henri menyematkan umur korban pelanggaran HAM sebagai simbol bahwa pemerintah telah merampas masa depan korban.

Karya seninya tidak hanya memuat nama korban pelanggaran HAM di Nduga. Henri turut menyertakan nama-nama korban kekerasan di Papua sejak tahun 1960.

Melalui akun media sosialnya, Henri juga menyematkan tagar blacklivesmatter dan papualivesmatter. Ia kerap menyuarakan perjuangan orang kulit hitam yang di Amerika yang baru-baru ini kembali panas. Ia mengatakan bahwa karyanya bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan isu imperialisme budaya dan hak masyarakat adat.

“Berakar dari konsep-konsep politik dan budaya, karya saya bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan isu imperialisme budaya dan hak masyarakat adat,” jelasnya.

Seniman kelahiran Bandung, Jawa Barat, ini mengatakan bahwa seorang seniman harus mampu bertanggung jawab untuk mendidik masyarakat. Ia mengatakan bahwa karyanya adalah salah satu edukasi dalam mengungkap ketidakadilan yang terjadi di Papua.

Henri berharap karyanya dapat membuka mata masyarakat dan mempertanyakan kebenaran yang ada soal Papua.

“Untuk mengabaikan rakyat Papua dan mengatakan bahwa yang dialami mereka tidak ada korelasinya dengan gerakan BLM (blacklivesmatter) sama dengan meremehkan apa yang mereka telah dan sedang alami,” ujarnya.