Perusahaan Lebih Pilih Bayar Utang, Target Investasi Hulu Migas Meleset
beritapapua.id - beritapapua.id - Pimpinan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menghadiri rapat dengar pendapat (RDP) Komisi VII DPR RI. (Foto: Bisnis/Nyoman Ary Wahyudi)

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) memproyeksikan realisasi investasi hulu migas pada 2022 berada di kisaran US$12,1 miliar, lebih rendah dari target awal yang ditetapkan di angka US$13,2 miliar.

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengatakan, turunnya outlook investasi itu dipengaruhi oleh aktivitas perusahaan migas yang cenderung menahan investasi mereka pada portofolio berisiko, kendati harga minyak mentah dunia di pasar global saat ini masih tertahan di posisi yang relatif tinggi.

“Perusahaan-perusahaan masih melihat harga minyak tinggi itu hanya sementara, mereka lebih mementingkan posisi kas dari ancaman krisis global, menggunakan dana yang diperolehnya untuk membayar utang dan kas ke investor,” kata Dwi saat rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VII di DPR RI, Jakarta, Rabu (16/11/2022).

Kendati demikian, Dwi memastikan, outlook 2022 yang ditekan rendah itu tetap menunjukkan performa positif jika dibandingkan dengan torehan tahun lalu.

Dia mengatakan, outlook investasi 2022 meningkat 11 persen dari realisasi tahun lalu di angka US$10,9 miliar. Sementara itu, realisasi investasi hulu migas hingga Oktober 2022 sudah mencapai US$9,2 miliar.

Menurut dia, torehan itu lebih tinggi 5 persen dari rata-rata pencapaian investasi global.

“Realisasi sudah US$9,2 miliar sampai dengan Oktober, outlook kita US$12,1 miliar ini berarti ada kenaikkan sekitar 20 persen, berarti lebih tinggi dari rata-rata dunia yang hanya 5 persen untuk kenaikkan investasi di 2022,” tuturnya.

Aspermigas: Investor Berhati-hati Naikan Belanja Modal

Sebelumnya, Asosiasi Perusahaan Migas Nasional (Aspermigas) menyatakan investor masih berhati-hati untuk menaikkan belanja modal atau capital expenditure (capex) mereka berkaitan dengan upaya intensifikasi eksplorasi dan eksploitasi blok migas di tengah proyeksi harga minyak mentah dunia yang akan tertahan tinggi hingga 2024 mendatang.

“Biasanya investor selalu berasumsi harga stabil di posisi US$60 per barel hingga US$70 per barel. Jadi keputusan kami dihitung berdasarkan itu, kalau harga naik sampai US$100 per barel itu bonus,” kata Moshe saat dihubungi, Selasa (30/8/2022).

Baca Juga: Neilmaldrin Noor: Realisasi Investasi Masih Jauh dari Komitmen Penerima Insentif Pajak

Moshe menuturkan, investasi yang belakangan mulai meningkat beberapa waktu terakhir itu disebabkan karena momentum pemulihan pascapandemi. Dia menampik pergerakan investasi itu sebagian besar didorong oleh harga minyak mentah yang masih menguat hingga pertengahan tahun ini.

Di sisi lain, dia mengatakan, kegiatan pengeboran untuk menunjang realisasi produksi nasional belakangan kembali bergairah di tengah momentum harga komoditas energi primer tersebut. Sekalipun, kata dia, Pertamina yang menguasai 60 persen blok minyak nasional, mengalami menghadapi penyusutan produksi alamiah yang serius di beberapa lapangan. “Produksi untuk naik lagi butuh pengeboran, teknologi, uang, kuncinya Pertamina tidak bisa sendiri dia harus berpartner,” kata dia.