Pohon Sa’dan Gambaran Jembatan Shirat di Akhirat
Pohon Sa’dan: Gambaran Jembatan Shirat di Akhirat

Pohon Sa’dan: Gambaran Jembatan Shirat di Akhirat – Pernahkan Anda mendengar tentang jembatan shirat al-mustaqim? Secara bahasa, jembatan shirat al-mustaqim memiliki makna jalan yang lurus. Menurut kitab Lawâmi’ul Anwâr, jembatan ini membetang di atas neraka menuju kepada pintu surga.

Namun, Nabi menyebut bahwa manusia akan kesulitan dalam melewati jembatan tersebut. Semua umat muslim kelak akan melewati jembatan shirat al-mustaqim pada hari akhir. Allah azza wa jalla berfirman,

وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا كَانَ عَلَى رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا

“Dan tidak ada seorang pun dari kalian, melainkan akan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Rabbmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.” (QS. Maryam: 71)

Sebagian ulama menggunakan ayat tersebut menyebut ayat tersebut menjelaskan bahwa setiap manusia akan melewati jembatan shirat. Begitu pula tafsir dari para sahabat seperti Ibnu ‘Abbas radhiyallahu anhu, Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu dan Ka’ab bin Ahbar.

Hal ini mengacu pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ثُمَّ يُؤْتَى بِالْجَسْرِ فَيُجْعَلُ بَيْنَ ظَهْرَيْ جَهَنَّمَ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْجَسْرُ قَالَ مَدْحَضَةٌ مَزِلَّةٌ عَلَيْهِ خَطَاطِيفُ وَكَلَالِيبُ وَحَسَكَةٌ مُفَلْطَحَةٌ لَهَا شَوْكَةٌ عُقَيْفَاءُ تَكُونُ بِنَجْدٍ يُقَالُ لَهَا السَّعْدَانُ

“Kemudian didatangkan jembatan lalu dibentangkan di atas permukaan neraka Jahannam. Kemudian, kami (para sahabat) bertanya: Wahai Rasulullah, bagaimana (bentuk) jembatan itu?. Jawab beliau: Licin (lagi) mengelincirkan. Di atasnya terdapat besi-besi pengait dan kawat berduri yang ujungnya bengkok, ia bagaikan pohon berduri di Nejd, dikenal dengan pohon Sa’dân.” (Muttafaqun ‘alaih)

Jika ingin melihat gambaran jembatan shirat, maka lihatlah pohon sa’dan. Lantas, seperti apakah pohon tersebut?

Pohon sa’dan mirip seperti pohon pada umumnya. Hanya saja, seluruh batang pohon tersebut memiliki duri tajam, mirip buah durian. Bayangkan, kita harus berjalan pada pohon tersebut selama ratusan tahun. Tak ayal para alim menyebut pohon tersebut mampu melunturkan nafsu dunia.

Kondisi Manusia pada Jembatan Shirat

Baca juga: Resume Bedah Buku 75 Tahun Menerangi Negeri

Nabi menyebut bahwa kondisi manusia kala menyebrangi jembatan shirat berbeda-beda. Ada yang secepat kilat, ada yang merangkak, ada pula yang jatuh ke dalam neraka. Kondisi ini tergantung dengan amal ibadah mereka.

الْمُؤْمِنُ عَلَيْهَا كَالطَّرْفِ وَكَالْبَرْقِ وَكَالرِّيحِ وَكَأَجَاوِيدِ الْخَيْلِ وَالرِّكَابِ فَنَاجٍ مُسَلَّمٌ وَنَاجٍ مَخْدُوشٌ وَمَكْدُوسٌ فِي نَارِ جَهَنَّمَ حَتَّى يَمُرَّ آخِرُهُمْ يُسْحَبُ سَحْبًا

“Orang Mukmin (berada) di atasnya (shirâth), ada yang secepat kedipan mata, ada yang secepat kilat, ada yang secepat angin, ada yang secepat kuda yang amat kencang berlari, dan ada yang secepat pengendara. Maka ada yang selamat setelah tertatih-tatih dan ada pula yang dilemparkan ke dalam neraka. Mereka yang paling terakhir merangkak secara pelan-pelan.” (Muttafaqun ‘alaih)

Ada beberapa hal yang mampu menyelamatkan manusia ketika menyebrangi jembatan shirat. Pertama, amanah dan hubungan silaturahmi. Saat menyebrang, dua amalan ini menyaksikan manusia. Barangsiapa yang lalai dengan dua amalan tersebut, maka ia akan gemetar.

Kedua, seberapa cepat kita melaksanakan panggilan dan perintah Allah. Kecepatan seseorang dalam berjalan pada jembatan shirat akan bergantung pada kepatuhannya pada perintah Allah. Semakin cepat seorang mu’min melaksanakan perintah Allah, maka semakin cepat ia melewati jembatan itu.

Ada pula mereka yang merangkak, berjalan dengan pantat mereka, bahkan bergelantungan hampir jatuh. Atas kondisi tersebut, Nabi berdoa kepada Allah,

وَيُضْرَبُ الصِّرَأطُ بَيْنَ ظَهْرَي جَهَنَّمَ فَأَكُونُ أنَا وَأُمَّتِيْ أَوَّلَ مَنْ يُجِيزُ وَلاَ يَـَتكَلََّمُ يَوْمَئِذٍ إِلاَّ الرُسُلُ وَدَعْوَى الرُّسُلِ يَوْمَئِذٍ اللَّهُمَّ سَلِّمْ سَلِّمْ فَمِنْهُمْ الْمُؤُمِنُ بَقِيَ بِعَمَلِهِ وَمِنْهُمْ الْمُجَازَى حَتىَّ يُنَجَّى

“Dan dibentangkanlah shirâth di atas permukaan neraka Jahannam. Maka aku dan umatku menjadi orang yang pertama kali melewatinya. Dan tiada yang berbicara pada saat itu kecuali para rasul. Dan doa para rasul pada saat itu: Ya Allâh, selamatkanlah, selamatkanlah. Di antara mereka ada yang tertinggal dengan sebab amalannya dan di antara mereka ada yang dibalas sampai ia selamat.” (HR. Muslim)