Polemik Kedatangan TKA China di Sulawesi Tenggara
beritapapua.id - Polemik Kedatangan TKA China di Sulawesi Tenggara - Liputan6

Setelah sebelumnya sempat menolak tegas kedatangan tenaga kerja asing (TKA) asal China ke Sulawesi Tenggara (Sultra), akhirnya Gubernur Sulawesi Tenggara, Ali Masie mengizinkan masuknya tenaga kerja asing (TKA) asal China untuk bekerja membangun smelter di wilayahnya. Perubahan sikap dari Gubernur Sultra yang berubah drastis ini beralasan karena tidak ingin bertentangan dengan pemerintah pusat. Dimana pemerintah pusat telah memberikan izin terhadap 500 TKA asal China itu untuk bekerja membangun smelter di wilayah Sulawesi Tenggara.

Seperti diketahui sebelumnya pada April 2020, Gubernur dan DPRD Sultra sempat menolak rencana kedatangan 500 TKA asal China tersebut. Karena dianggap bertentangan dengan suasana kebatinan masyarakat. Sebab kebijakan pemerintah pusat yang mengizinkan kedatangan TKA China itu bisa memicu gejolak masyarakat. Namun kini Gubernur Sultra mengatakan soal kedatangan TKA China, pihak Pemprov Sultra tidak melarang. Namun meminta ditunda karena suasana pandemi Covid-19.

Baca Juga: Perkuliahan dengan Sistem Tatap Muka masih dilarang

500 KA China Datang Bertahap

500 TKA asal China akan datang secara bertahap mulai 23 Juni 2020. Mereka akan dibagi kedalam tiga sampai empat tahap. Dimana dalam tahap pertama, Tahap pertama, 152 orang pekerja dengan kemampuan teknik konstruksi bangunan, ditemani 4 orang tenaga medis. TKA China ini nantinya akan melewati proses karantina di Kawasan Pabrik di PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) Morosi, Kabupaten Konawe. Kedatangan TKA asal China akan menerapkan protokol kesehatan secara ketat untuk meminimalisir potensi penularan Covid-19. TKA China yang datang harus memenuhi persyaratan dan ketentuan yang ditetapkan Negara, dengan melalui prosedur tes kesehatan, karantina, dan administrasi yang menyatakan mereka layak masuk.

Lebih lanjut dalam keterangannya Ali Masie mengatakan dengan adanya kedatangan para TKA asal China diharapkan bisa mendukung investasi yang ada di daerah nya. Sebab PT VDNI sebagai perusahaan internasional berinvestasi dalam jumlah Rp 42 triliun, yang dapat mendukung APBD Sulra yang hanya Rp4,2 triliun. Selain itu dalam proses pembangunan smelter di PT VDNI, proyek ini juga dapat menyerap ribuan pekerja lokal di daerah tersebut sehingga dapat menekan angka pengangguran dan kemiskinan.

Semetara itu Juru Bicara Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenkomarves), Jodi Mahardi mengatakan TKA ini dipanggil untuk membantu mempercepat pembangunan smelter dengan teknologi RKEF dari China. Dimana dengan teknologi RKEF China bisa membangun secara ekonomis, cepat, dan memiliki standar lingkungan yang baik. Teknologi ini juga menghasilkan produk hilirisasi nikel yang bisa bersaing di pasar internasional. Setelah smelter tersebut jadi, maka TKA tersebut akan kembali ke negara masing-masing. Selebihnya, saat smelter sudah mulai beroperasi pekerja lokal akan dipekerjakan di pabrik smelter. Kedepannya tenaga kerja lokal akan bertambah seiring berjalannya pelatihan keterampilan.