Prek Dengan PSBB, Kenangan di McD Sarinah Lebih Penting
beritapapua.id - Seremonial penutupan McDonald’s Sarinah yang berada di Jalan Thamrin yang dihadiri ratusan orang untuk sekadar mengabadikan momen tersebut. Foto: Akun twitter @pleasureboyss

Tanggal 10 Mei 2020 menjadi hari terakhir McDonald’s Sarinah beroperasi. Pengalih fungsian gedung, serta revitalisasi yang akan menjadikan Gedung Sarinah sebagai sentra Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), mengakibatkan penutupan ini dilakukan oleh manajemen.

Gedung Sarinah yang terletak di jantung ibu kota DKI Jakarta ini memang sungguh ikonik. McDonald’s sebagai gerai makanan siap saji termasuk salah satu ikon sejarah yang menandai derasnya pertumbuhan ibu kota.

Masyarakat tumpah ruah mengabadikan momen terakhir mereka kepada McDonald’s Sarinah yang sudah dianggap sebagai warisan budaya, atau cagar budaya urban. McDonald’s Sarinah seakan telah menjadi saksi bisu akan segala keharuan, cinta, air mata, bahkan terorisme dan kerusuhan Pilpres pada tahun 2019 lalu.

Sebegitu besarkah nilai sentimental dari sebuah ikon metropolis, hingga masyarakat rela berbondong-bondong dengan melanggar kebijakan pemerintah? Padahal diketahui bahwa DKI Jakarta masih menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) akibat pandemi Covid-19 hingga 22 Mei 2020 mendatang.

Pemandangan ini menjadi sebuah ironi karena seremonial yang menarik ratusan massa tersebut dilakukan oleh warga ibu kota yang notabene tingkat literasinya tidak rendah. Kesadaran akan bahaya virus dengan tingkat kejangkitan tinggi ini, entah tidak ada, ataukah masyarakat sudah sampai pada tahap masa bodoh?

Baca Juga: McDonald’s Sarinah Ditutup, Yuk Intip Sejarah Ikon Ibu Kota Ini

Beradaptasi Tanpa Mengabaikan Protokol Kesehatan

Memang, Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada hari Kamis, 08/05/2020 mengajak masyarakat untuk bisa adaptif dengan virus corona sebagai sebuah tindakan precautions. Hal ini adalah pengandaian jika-jika kita harus menjalani aktivitas di tengah pandemi covid-19 karena belum ditemukannya vaksin.

Tindakan adaptif warga atau penduduk Indonesia untuk beraktivitas di tengah pandemi Covid-19, bukan serta merta abai terhadap protokol kesehatan yang ketat. Jaga jarak fisik dan tidak berkerumun merupakan salah satu bentuk adapatasi kita ketika melakukan aktivitas di luar rumah.

Hal ini tidak terlihat dari pemandangan seremonial penutupan McDonald’s Sarinah tadi malam. Tumpah ruah warga yang berdekatan saling berteriak mengungkapkan kesedihan mereka menjadi simbol kultur baru bagi kaum urban. Kultur konten.

Ketidak pedulian warga yang harus mengabadikan momen terakhir mereka bersama McDonald’s Sarinah, untuk dijadikan konten pada sosial media disambut oleh berbagai reaksi negatif dari warga net.

Sikap abai terhadap kemungkinan menjadi klaster penyebaran Covid-19 yang baru menjadikan mereka seolah tak punya empati. Demi selebrasi yang fantastis, imbauan pemerintah akan bahaya virus tidak ditaati.